air-terjun-njalir

18 Mei 2017, ini kali ketiga kami mampir ke basecamp REMPALA di dukuh Wonolelo, dusun Ngangrong, Ampel, Boyolali. Pertama kali ke sana target kami ke air terjun Semuncar, tapi apa daya karena kurang survey awal sehingga kami hanya sampai di tuk songo. Terkendala tebing setinggi 4 meter yang amannya dinaiki dengan pengaman tali. Kali kedua, dengan persiapan lebih matang kami berhasil menuntaskan Semuncar. Kali ketiga ini target kami ke arah lereng yang berlawanan dengan Semuncar, ke arah air terjun Sipendok. Tapi cuma sampai ke air terjun Njalin.

This content requires HTML5/CSS3, WebGL, or Adobe Flash Player Version 9 or higher.

Foto merupakan panorama 360, silakan diputar ke kiri kanan atas bawah untuk melihat sekeliling.

Berangkat agak telat, sekitar jam 7 pagi dari rumah. Anggota regu Marsono, Mas Warjo dan saya sempat mampir di warung makan pinggir jalan di Boyolali. Sarapan pagi sembari beli bekal nasi bungkus untuk makan siang nanti di air terjun Njalin. Tak lupa mampir sebentar di pasar Ampel, beli sandal jepit. Pengalaman kemarin sandal gunung di Semuncar lepas juga, makan kali ini sengaja menggunakan sandal jepit. Yang penting bisa menggigit di batuan.

Tiba di basecamp Rempala kami disambut mas Dwi. Sembari bertanya jalur menuju ke air terjun Njalin, dan kali ini dicatat di dalam handphone supaya nanti di perjalanan sudah bisa mengira-ira seberapa jarak yang sudah kami tempuh. Tak lupa buku Merbabu saya titipkan untuk taman bacaan di basecampe Rempala ini, siapa tahu bisa menjadi bahan bacaan untuk teman-teman di sana.

buku Merbabu untuk Rempala
serah terima buku merbabu ke mas Dwi, di basecamp Rempala

Dari air terjun Tempuran nanti ambil jalur sungai yang kiri. ikuti terus aliran sungai setelah itu akan bertemu air terjun Maerokoco. Di sini ada semacam cerukan di bawah air terjun bisa digunakan untuk berendam. Air terjun Maerokoco ini juga terdiri dari dua undakan. Ambil jalur melipir tebing di sebelah kanan. Setelah itu nanti akan ketemu air terjun Prono Jiwo. Ambil jalur melipir di sebelah kiri. Air terjun berikutnya adalah batu poin, ambil kiri agak naik. Air terjun terakhir sebelum Njalin adalah air terjun Kembar Tiga, ada tangga warga di sebelah kanan. Dan setelah itu ketemu air terjun Njalin. Itu yang saya catat sembari mendengarkan uraian dari mas Dwi.

Perjalanan dimulai sekitar pukul 9.17. Agak terlalu siang karena biasanya kami memilih berjalan lebih pagi supaya tidak dikejar-kejar waktu harus kembali ke basecamp sebelum terlalu kesorean.

Menyusuri sungai menuju Tempuran
sungai di awal perjalanan
rumput tinggi menuju Tempuran
rumput yang mulai meninggi

Perjalanan menuju ke air terjun Tempuran kami lewati tanpa banyak hambatan. Air sungai sudah mulai surut, bahkan di sekitar desa sudah mulai kering karena beberapa hari tidak turun hujan.

menyusuri sungai menuju Tempuran
sungai yang mulai mengering
air terjun Tempuran
air terjun tempuran

Selepas Tempuran kami mengambil jalur kiri, menyusuri sungai berbatu yang beraliran masih cukup deras. Di beberapa titik kami harus memanjat batuan yang cukup besar untuk bisa melanjutkan perjalanan. Terkadang kamera dslr canon 6D yang sedari awal perjalanan saya gunakan harus saya titipkan ke Marsono yang sudah naik duluan supaya tidak terkena air atau terantuk bebantuan ketika saya memanjat melewati batuan setinggi dada.

menuju air terjun Njalin
melewati rintangan
menuju air terjun Njalin
jalur semakin menyempit

Aliran sungai juga di beberapa tempat mulai mengering, tapi masih menyisakan gurat-gurat ketika musim hujan dengan airnya yang meluap memenuhi sungai. Tapi karena kontur daerah pebukitan yang berundak sehingga arus sungai yang mengalir masih cukup deras.

menyusuri sungai menuju Njalin
berloncatan di batuan

Sekitar 25 menit perjalanan dari Tempuran kami pun menemui air terjun kedua, Maerokoco. “Nanti saja pas pulang baru kita mandi di sini ya” usul Marsono ketika melihat kolam di bawah air terjun Maerokoco. Kami setuju karena target kami siang ini makan siang di air terjun Njalin.

air terjun Maerokoco
air terjun Maerokoco

Setelah itu kami menyusuri jalan setapak di sebelah kanan air terjun. Di beberapa tempat cukup curam dan membawa kami ke teras diantara air terjun Maerokoco. Karena setelah itu masih ada air terjun Maerokoco bagian atas yang harus kami lewati. Kami mengambil jalan memanjat bebatuan di sebelah kanan, karena keliatannya lebih memungkinkan untuk dilewati. Saya kembali menyerahkan kamera dslr ke Marsono supaya memudahkan melewati tanjakan ini.

air terjun Maerokoco
menyusuri tebing
air terjun Maerokoco
melewati bagian atas air terjun Maerokoco

Selepas air terjun Maerokoco, jalan mulai kembali menanjak. Kami bergerak perlahan, memantapkan kaki supaya mendapatkan pijakan yang lebih aman. Di beberapa batuan licin membuat kami harus lebih berhati-hati.

susur sungai-njalir
diiringi gemericik sungai
menyusuri sungai menuju Njalin
semakin jauh semakin lebat

Dan ketika tiba di satu lokasi yang cukup sempit di depan kami terlihat rintangan berupa air terjun yang cukup deras. Di bagian kiri keliatannya memungkinkan untuk dilewati.

memandang air terjun Prono Jiwo
memandang air terjun Prono Jiwo
air-terjun-Prono Jiwo
air terjun Prono Jiwo

Untuk amannya Marsono akan naik terlebih dahulu dan melemparkan webbing untuk kami jadikan pengaman. Sebelum naik ke air terjunnya, sandal jepit saya terkena arus dan terbawa aliran. Saya mulai panik karena pengalaman di air terjun tanpa sandal akan cukup menyiksa. Apalagi kalau bertemu dengan batuan yang tajam, telapak kaki mungkin bisa mudah terluka. Marsono segera menyusul ke bawah, membantu mencari sandal yang keliatannya terbawa aliran air yang cukup deras. Saya tadi pertama kali langsung menyelamatkan kamera dengan menaruh di tempat kering dan segera menyusul mencari di antara aliran air. Marsono yanng lebih sigap sudah sampai ke undakan terahkir sebelum air terjun yang cukup tinggi, tapi tidak terlihat tanda sandal jepit berwarna hitam.

“ya sudah nanti pas turun dicoba dicari lagi saja” usul Marsono karena melihat terlalu sulit mencari hingga ke bawah lagi. “Nanti pakai sandal cadangan saya saja” tambahnya lagi. Kebayang kaki Marsono yang berukuran 45-46 bakalan jadi kayak pakai kapal kalau jalan di air nanti hahahaha…

Kembali ke atas sembari menyapu sekitar siapa tahu sandal terjebak di air yang berputar atau terkena batuan. Padahal tadi sudah dua kali diulang, tapi ya siapa tahu yang ketiga kalinya lebih beruntung.. Eh beneran, sandal saya ketemu di dekat tadi saya kehilangan sandal, paling cuma selisih berapa meter di bawahnya, diam diantara arus, seperti terjebak di arus. Padahal tadi sudah dua kali lewat sana, tapi terlewatkan. Sambil memungut sandal yang sempat hilang, saya bersyukur dalam hati, karena bisa kembali menyusuri sungai dengan alas kaki yang memadahi.

air-terjun-Prono Jiwo
melewati air terjun prono jiwo
air-terjun-Prono Jiwo
mengamankan jalur

Air terjun Prono Jiwo yang kami lewati berikutnya ini cukup memantang juga melewatinya. Karena kami hanya bisa berpegangan pada batuan kecil yang menonjol. Kaki mencari pijakan yang cukup kuat, satu tangan menggapai batuan kecil di atas, meyakinkan diri sudah kuat, dan kemudian kaki satunya bergerak ke atas mencari tumpuan berikutnya. Beruntung webbing yang disiapkan marsono cukup membantu menyeimbangkan tubuh ketika mencari tumpuan di antara bebatuan. Kalau sampai terpeleset lumayan juga, kulit bisa sobek tersayat batuan. Sebelum naik tadi, kamera sengaja saya masukan ke dalam dry bag untuk berjaga-jaga apabila terpeleset dan masuk ke dalam air.

undakan sungai menuju air terjun Njalin
undakan sungai
menatap batu poin
menatap batu poin

Waktu menunjukan pukul setengah dua belas ketika kami akhirnya melewati air terjun Pronojiwo. Dan tak sampai sepuluh menit berjalan kami sudah dihadang kembali rintangan nyaris tegak lurus sekitar 4 meterean. Mungkin ini yang disebut air terjun batu poin yang dibilang mas Dwi tadi. Di sebelah kiri air terjun ada beberapa batuan yang keliatannya bisa dijadikan pijakan untuk naik ke atas. Mirip dengan air terjun sebelumnya, tapi yang di air terjun batu poin ini kemiringan lebih ekstrim. Kembali kamera saya masukan ke dalam dry bag sembari menunggu Marsono menyiapkan webbing untuk mengamankan mas Warjo melewati air terjun.

melewati batu poin
melewati batu poin
melewati batu poin
memanjat batu poin
melewati batu poin
memasang pengaman webbing

Badan basah kuyup tersiram air terjun yang cukup deras ketika tangan memegang batuan untuk dijadikan tumpuan. Kaki melangkah hati hati karena terkadang tersiram air terjun yang memantul dari batuan. Beruntung ada banyak poin yang bisa dijadikan pegangan, mungkin itu salah satu alasan kenapa air terjun ini disebut batu poin. Sesampai di atas, Marsono yang sudah selesai menggulung webbing terpeleset arus dan sandalnya terseret arus hingga ke bawah. Beruntung sandal cuma berputar putar di bawah air terjun karena derasnya aliran air. Dan terpaksa kembali Marsono turun ke bawah untuk mengambil sandalnya… hahahaha

Hati-hati juga karena batuan di atas air terjun keliaatannya cukup licin untuk dipijak. Jangan sampai gegabah dan terpeleset jatuh ke bawah, karena cukup tinggi juga kalau sampai terpeleset jatuh ke bawah.

Selepas ini kamera dslr saya masukan ke dalam dry bag karena kondisi sungai yang keliataanya mulai semakin curam. Gantinya saya mengeluarkan kamera poket G15 yang sengaja saya masukan ke dalam casing underwater supaya tidak basah terkena air.

Perjalanan berhenti di bawah air terjun Kembar Tiga yang di beberapa tempat tertutup pohon pohon yang tumbang. Kami terpaksa harus menerobos untuk mencapai bawah air terjunnya. Kondisi di bawah air terjun juga berserakan batu-batuan yang keliaatannya bekas longsor.

Setelah melihat sekeliling kami menemukan tangga dari bambu yang berada di samping kanan air terjun. Cukup ngeri juga karena kami tidak tahu berapa lama tangga bambu ini sudah berada di sana. Masih amankan ? atau sudah mulai lapuk karena terkena air hujan dan suhu lembab terus menerus ?

air terjun kembar tiga
dari atas air terjun kembar tiga

Tapi memang tangga bambu ini salah satu jalan untuk bisa melewati air terjun kembar tiga yang tegak lurus menutup aliran air sungai. Dengan berbekal percaya pada alat, satu persatu kami melewati tangga bambu dan tiba di tebing atas. Melipir di antara gigiran yang cukup tipis, nyaris merayap untuk sampai tiba di atas air terjun. Dari sana air terjun cukup tinggi dan deras mengalir dengan ketinggian sekitar 20 meter terlihat di balik ranting pepohonan.

air terjun Njalin
air terjun Njalin

Di sepanjang jalur sungai dipenuhi bekas longsoran batuan yang keliaatannya belum terlalu lama, karena masih terlihat bekas-bekas batuan yang pecah ketika membentur batu yang lainnya. Sambil memandang sekeliling perasaan agak ngeri terlitas membayangkan kalau terjadi longsor susulan. Tapi mungkin juga longsor batuan terjadi ketika musim hujan kemarin yang cukup deras sehingga menyebabkan batuan rontok. Tapi untuk berjaga-jaga, setelah selesai sesi foto, kami turun sedikit ke bawah, mencari tempat yang agak lapang dan tidak banyak rontokan batuan untuk rehat makan siang.

air terjun Njalin
berpose

Nasi bungkus dengan menu ati ampela, orek tempe, dan telor puyuh dari warung pagi tadi segera lahap saya santap. Apalagi ditambah kopi hangat dari termos Marsono yang sengaja dibawa dari rumah. Setelah itu kami berbincang ringan sembari mengevaluasi jalur yang barusan kami lewati. Marsono bahkan masih menyempatkan naik ke tebing sebelah kiri yang banyak terdapat pipa air untuk melihat jalur menuju ke atas air terjun Njalin hingga sampai ke Sipendok yang merupakan akhir dari jalur sungai ini.

makan siang di air terjun Njalin
makan siang nikmat

Setelah dirasa cukup, kami kembali mengemasi perbekalan. Tak lupa tentunya memasukan sampah-sampah yang kami bawa ke dalam plastik untuk dibawa turun. Kita kan cuma tamu di alam yang indah ini, jadi sudah menjadi kewajiban untuk kita semua untuk menjaga kelestarian dan kebersihannya dengan salah satunya tidak merusak alam, tidak melakukan vandalisme dan membawa kembali sampah kita turun.

Perjalanan turun ternyata lebih menyusahkan dibanding perjalanan naik tadi. Karena ketika turun beberapa kali harus merambat di tebing dan tidak bisa melihat dengan leluasa kondisi di bawah kaki kita. Kesulitan untuk mencari pijakan kaki karena ternyata cukup jauh ke bawah. Beruntung kami bisa melewati rintangan di air terjun kembar tiga, batu point, pronojiwo dengan selamat. Biar pelan tapi berhati-hati supaya selalu selamat hingga tiba di rumah.

Dan penutup acara jalan sehat ke air terjun Njalin ini dengan menceburkan diri mandi di kolam di bawah air terjun Maerokoco. Dingin tapi menyegarkan ketika menceburkan tubuh ke dalam kolam setinggi pinggang orang dewasa ini. Belum lagi aliran air yang deras yang mengenai tubuh bagai pijatan alam untuk meredakan ketegangan otot sepanjang perjalanan.

Dan kami tiba dengan selamat sekitar pukul tiga di basecamp Rempala. Membersihkan diri, memesan teh hangat sembari berbincang mengenai perjalanan hari ini. Dan setelah itu kamipun berpamitan untuk kembali pulang ke rumah. Walau sebelum pulang ada informasi dari teman-teman di basecamp. Ada jalur menuju sabana 1 gunung Merbabu lewat jalur Ngangrong, kapan kapan sempatkan main ke sana…

Comments

  1. Luar biasa indahnya ciptaan Tuhan, terima kasih Mas Be2k,liputannya jadi pingin lagi ke semuncar atau ke Njalin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *