Perjalanan
Sepenggal Kisah Perjalanan di Ponorogo - Workshop Landscape Photography “The Light Of Suro III 2012”
- Details
- Parent Category: Blog
- Category: Perjalanan
- Written by Wawies Wisnu
- Hits: 1015

Matahari menyambut sedikit garang ketika saya tiba di halaman sepi gedung Apollo. Alun-alun tempat perayaan tahunan Grebeg Suro dan Festival Reog Nasional yang tepat di hadapan gedung pun hampir tak ada bedanya. Hanya terlihat geliat beberapa penjaja makanan di antara deretan tenda pasar malam tertutup rapat. Siang terasa semakin panas memanggang kota di lembah pertemuan kaki gunung Wilis dan gunung Lawu ini, bahkan semangkuk es buah yang biasanya sangat menyegarkan pun seakan kehilangan sensasi dinginnya dalam tubuh saya.
Terlindung dibalik naungan teduh tenda warung es, obrolan dengan Ucup, Rendi dan Dayud terus mengalir sampai tak menyadari sisa-sisa es dalam mangkuk telah benar-benar mencair. Tak terbayangkan sebelumnya, geliat penggiat fotografi di Ponorogo selama ini hanya saya ketahui dari berbagai kisah Dorus ketika kami berdua melewatkan waktu dengan ditemani nikmatnya kopi kental. Namun, isi dalam gallery pameran yang sempat saya intip semalam setelah tiba di Ponorogo, mau tidak mau puluhan karya proses kreatif dalam bingkai-bingkai kayu minimalis berlatar partisi putih itu membuat mental saya sedikit goyah (wah, saya ternyata berada di salah satu gudangnya para fotografer profesional... bikin nyali ngeper juga nih! Hahaha…).
…………………
Tepat pukul 13.30 walau sedikit mundur dari rencana semula, ditemani sejuk hembus kipas angin elektrik (semoga nggak bikin iri para peserta... :P...), workshop dibuka panitia melalui perkenalan singkat tentang Landscape Indonesia (lumayan buat perkenalan diluar media online...hehehe). Tak lama kemudian, slide demi slide materi penuh foto dengan teks sangat minimal runtut terpancar dari lensa proyektor, mengalirkan sebuah cerita tentang pengalaman saya selama ini mempelajari fotografi landscape secara otodidak. Tak ingin terjebak pada pembahasan teori yang penuh dengan deretan aksara dan cenderung butuh waktu panjang, workshop atau mungkin lebih tepat bila saya sebut sharing pengalaman ini dimulai dengan ajakan merumuskan definisi Fotografi Landscape melalui beberapa pertanyaan sederhana. Khususnya berbagai hal yang selama ini selalu berkecamuk dalam benak saya (bagi saya pribadi, fotografi landscape masih sangat luas untuk dibahasakan hanya dalam satu atau dua kalimat… Bahkan konon para fotografer sudah tersohor pun masih terus memperdebatkannya … :P ), seperti: benarkah fotografi landscape hanya memotret keindahan alam saja? sejauh mana elemen lain seperti kegiatan manusia bisa dimasukkan? bisakah memotret landscape menggunakan format portrait? dan lain sebagainya. Berlanjut ke sharing pengalaman mempelajari dasar-dasar komposisi sebagai langkah awal menggeluti hobi memotret. Kali ini memang tidak terhindarkan menjadi cenderung teoritis meski sudah menggunakan beberapa foto sebagai contoh kasus, sehingga tak heran bila banyak saya lihat beberapa dahi peserta tampak berkerut (khususnya beberapa peserta yang duduk di bangku sekolah menengah atas dan masih baru menggeluti fotografi... maaf dik, sampai sekarang pun saya juga masih mempelajarinya kok...).

Pada pembahasan selanjutnya lebih ditekankan pada pentingnya observasi dan riset awal sebagai pondasi utama seluruh rangkaian panjang proses kreatif fotografi, khususnya memotret Landscape. Mengapa riset penting? Jawaban paling tepat adalah semakin kita mengenal subject foto maka kita mendapatkan ruang berimprovisasi lebih luas ketika menekan tombol shutter. Dewasa ini, riset bukan hal sukar karena hanya perlu menekan tuts-tuts keyboard computer yang terhubung dengan media online, seketika berbagai informasi akan tersaji lengkap dan bisa dikatakan cukup akurat menggambarkan kondisi alam maupun karakteristik cuaca di lokasi pemotretan. Bahkan referensi teknis dari deretan foto hasil pemotretan yang bisa menggambarkan spot-spot pengambilan lokasi yang menarik hingga ragam sudut pemotretan yang pernah dilakukan sebelumnya juga akan tersaji lengkap dan bahkan mungkin bisa dikatakan cukup akurat hanya dalam hitungan menit. Sedikit berbagi pengalaman, riset sebelum berangkat inipun ternyata seringkali terasa belum cukup, sehingga ketika tiba di lokasi pun saya sering meluangkan waktu untuk sekedar berjalan-jalan dan mendulang informasi lebih banyak melalui obrolan-obrolan ringan dengan penduduk setempat (seringkali malah tidak hanya sukarela memberikan informasi, tapi terkadang banyak pula penduduk setempat yang mau membantu mengantarkan secara sukarela... :P).
Akhirnya, materi pengantar diskusi ditutup dengan sharing berbagai hasil pembelajaran dalam memadukan konsep dan teknis fotografis untuk menciptakan kesan, makna, ataupun cerita melalui karya (walau entah bisa dimasukkan sebagai hasil sebuah proses kreatif atau tidak.. hehehe). Tentu saja, saya tak akan lupa menambahkan sedikit racun melalui beberapa E-book Landscape Indonesia dan beberapa klip movie yang pernah diproduksi oleh mas Widhi Beks.
Slide terakhir usai terpapar di layar putih, namun ruang workshop seakan terperangkap senyap beberapa saat (entah apa yang dirasakan peserta saat itu, mungkin agak bingung, bingung, atau bingung buangeeet... hahahaha). Tak berapa lama, keheningan mulai terpecah dan beberapa pertanyaan pun ikut tumbuh menjamur. Dari penggunaan dan pemilihan peralatan, teknik metering, improvisasi menurunkan kontras cahaya yang terlalu jauh antara langit dan permukaan bumi, permainan slow speed, hingga pengolahan diafragma untuk mendapatkan perbedaan efek ruang tajam. Sebuah pertanyaan cukup menarik terlontar dari mas Andre Wisnu, seorang Guru dari kota Madiun (semoga nggak salah.. :P). “Bisakah menggunakan kamera pocket atau kamera handphone untuk belajar foto landscape? Bisakah mengajarkan fotografi tanpa harus membebani murid-murid dengan peralatan fotografi yang sangat mahal?” tanya mas Andre (sedikit di edit siiih, karena aslinya cukup panjang... :P ). “Sangat bisa, Mas” jawab saya (sok pede panggil mas... hahahaha) sambil men-sharing-kan salah satu artikel tulisan mas Adam G. Nuskara dalam salah satu e-book karya keroyokan beberapa teman di Yogyakarta yang mengangkat tentang memotret menggunakan kamera pocket. Tak hanya itu, racun pun kembali saya tebar melalui sharing beberapa foto karya mas Wahyu Widhi yang dilahirkan menggunakan kamera pocket kesayangannya.

Seiring waktu berlalu, ketika peserta mulai tampak kebingungan hendak bertanya apa lagi. Acara workshop langsung dirubah bentuk menjadi sharing pengalaman melalui praktek langsung di balkon gedung Apollo yang menawarkan cityscape senja kota Ponorogo. Meski perlu sedikit perjuangan karena untuk bisa sampai di balkon harus rela berjibaku menggunakan tangga bambu, ternyata hal itu tak menyurutkan rasa antusias para peserta (salut buat semangatnya!!!). Balkon yang semula kosong dan sepi seketika berubah riuh beragam pertanyaan dan obrolan yang berbaur dengan ramainya suara shutter kamera para peserta. Beruntung, Adyka Romaka, Isidorus dan beberapa teman panitia lain yang ikut menyertai hunting dadakan ini mau menyumbangkan pengetahuannya ketika saya mulai gelagapan dihujani berbagai pertanyaan (hahaha... makasih mas bro). Sekali lagi salut buat semangatnya!!!

…………………
Pagi mulai merekah di ufuk timur ketika dua kuda besi melaju menjauhi pusat kota Ponorogo sejauh 20 km ke timur. Setelah saya, Ibeng, Adyka, dan Dorus menelusuri jalanan dan merambati lereng gunung Wilis selama hampir 25 menit, hamparan luas danau alami terlingkupi perbukitan berselimut kabut tipis menyambut ruang pandang mata.
Telaga Ngebel terlihat anggun pagi ini meski langit sedikit kelabu oleh kabut tipis dan bongkahan-bongkahan mendung yang menciptakan sebentuk tiang-tiang cahaya surai sang surya. Hamparan danau terlihat tenang terhampar bagai cermin raksasa membiaskan bayang perbukitan terlingkupi tajuk pepohonan tua. Namun, sesekali bayang itu hilang terhapus riak-riak ombak halus ketika hembus angin menampar permukaan danau. “Ngopi dulu yuk, mas,” ajak Ibeng di sela-sela kesibukannya mengendalikan motor “metik” menelusuri jalan beraspal padat disekeliling danau yang tentu saja tidak akan pernah saya tolak.

Telaga alami di lereng Gunung Wilis yang dikelilingi jalan aspal sejauh 5 kilometer ini memiliki kisah yang unik. Tidak hanya berkaitan dengan legenda masyarakat sekitar, namun juga dipercaya memiliki kaitan dengan sejarah panjang keberadaan kota Ponorogo. Sehingga tak heran bila puncak perayaan Grebek Suro di kota Ponorogo akan dilangsungkan di tepian telaga luas ini. Namun, sayang sekali saya sepertinya harus mengurungkan keinginan untuk dapat menyaksikan upacara budaya yang sering disebut "Larung Risalah Doa" itu karena harus kembali ke Yogyakarta. Sambil mencoba menepis sedikit rasa kecewa yang terkadang timbul, kuhirup rebusan biji-biji coffea di cangkir sambil kembali menenggelamkan diri dalam obrolan hingga kami kembali pulang ke pusat kota Ponorogo tepat di tengah hari nanti.

…………………
Wajah Ponorogo perlahan tenggelam setelah barisan aksara membentuk kalimat “Selamat Jalan” terbaca mata di gerbang batas kota dari balik kaca Taksi yang mengantar saya dan beberapa teman baru ke kota Madiun untuk berlanjut kembali pulang ke Yogyakarta. Mungkin 3 hari 2 malam bukanlah waktu yang pendek, tapi tetap saja saya merasa belum cukup untuk memuaskan keinginan menjelajahi setiap sudut kota Ponorogo.
Terima kasih buat mas Dorus yang sudah merekomendasikan Landscape Indonesia. Terima kasih juga buat mas Yusuf “Ucup”, mas Lana, mas Rendi, mas Dayud, mas Ibeng dan temen-temen baru di Ponorogo baik panitia “The Light Of Suro III - 2012” maupun bukan panitia yang sudah menjamu kami di Ponorogo dengan berbagai hal. Buat mas Adyka dan mas Sandy atas sharing pengalaman dan berbagai ide gilanya (hahahaha!!!). Buat mas Arvi Echi atas gelangnya (sekarang prusik ditangan ada temennya bro... hahaha). For Hernandes, Ania, and Magda, thank you for the great 6 hour bus trip (Padahal yang 3 jam tak tinggal tidur... hahahaha)... Terima kasih juga buat panitia yang mengijinkan menggunakan beberapa foto dokumentasinya untuk kami gunakan dalam artikel ini dan Tentu saja, Terima kasih Ponorogo atas kepercayaannya pada www.landscapeindonesia.com....
Kami pasti kembali untuk saling berbagi pengalaman lagi dengan teman-teman baru kami di Ponorogo!!
Teks by: Wawies Wisnu Wisdantio
Foto by: Wawies Wisnu dan Shandy A. A. Miraza (Dokumentasi The Light Of Suro 2012)




Comments
wow jelajah wilis....ane di kediri ikutan mas....
terima kasih mas.... ayo kapan-kapan bikin jelajah gunung Wilis....
RSS feed for comments to this post