pano ketep1.jpg

Landscape Indonesia

Perjalanan

Sabang, Keindahan di Ujung Barat Indonesia (part 2 of 2)

Hari kedua berada di Pulau Weh (Sabang) tidak serta merta membuat hasrat kami untuk bangun pagi terukir mewarnai awal hari. Waktu masih menunjukkan pukul 06.30 WIBB (Waktu Indonesia Barat Banget... :P ). Walau kami tak menengok ke luar jendela, tetapi kami yakin kalau matahari belum terbit. Alhasil tidur kucing (terlelap tak bisa, bangun pun malesss...) membawa kami hingga pukul 08.00 WIBB dan menyebabkan antrian satu kamar mandi untuk 6 orang yang mengingatkan saya akan masa-masa masih kost. Sekitar pukul 09.00 WIBB, kami meluncur mencari sarapan. Setelah melahap semua gumpalan nasi dan semua lauk pauknya, kami kembali ke penginapan untuk mulai merancang skenario petualangan hari ini.

danau aneuk laot

Perhitungan jarak dan daftar aktivitas yang akan dilakukan di tiap obyek telah tersusun rapi, tanpa perlu membuang waktu segera kami meluncur ke lokasi pertama bernama Danau Aneuk Laot yang hanya 5 menit perjalanan dari penginapan. Meski tanda dan informasi penunjuk arah menuju bibir danau masih kami rasa kurang informatif, hal itu menjadi kurang penting untuk kami risaukan setelah memandangi hamparan membiru permukaan danau yang dikelilingi barisan perbukitan menghijau segar.

Pesona danau di sisi selatan pusat kota Sabang ini hampir saja membius kami, teringat dengan daftar tujuan perjalanan yang masih panjang membuat kami harus bergegas meninggalkan danau meski tetap terasa belum puas menikmati keindahannya. Tak berapa lama menelusuri jalanan disepanjang garis pantai teluk Lhok Preialakot, kami tiba di pantai Iboih, pantai perairan dangkal dan tenang yang biasa digunakan oleh para pecinta taman laut untuk sekedar skindive, snorkling hingga scuba diving.

pantai iboih

Pada dasarnya, pulau Weh sangat kaya dengan taman laut atau dive site yang akan memanjakan para diver yang mengunjunginya, namun atas rekomendasi seorang teman yang pernah berkunjung pulau ini, bila hendak snorkling atau skindive lebih baik pergi ke pantai Iboih saja. 6 set peralatan snorkling yang kami sewa 40 ribu rupiah per set dan satu case waterproof yang kami sewa seharga 40 ribu rupiah untuk melindungi kamera saku kami yang hendak digunakan untuk memotret keindahan taman laut Iboih menjadi bekal kami untuk merasakan pengalaman pertama kali Snorklingdi lautan lepas.

snorkler

Sekitar 30 menit telah berlalu ketika saya dan salah satu rekan hanya bermain di bibir pantai sambil melatih cara bernafas menggunakan pipa ninja hatori, mencoba berjalan dengan fins di air, hingga melatih cara membalik badan yang selalu terangkat oleh pelampung. Sementara kami masih berkutat dengan peralatan dan berlatih mempergunakannya, 4 orang rekan saya yang lain sudah beraksi di hamparan laut lepas sembari mengabadikan apapun yang mereka lakukan dalam frame-frame foto digital. Tak lama kemudian, setelah terbiasa dengan gear yang kami kenakan, perlahan kami mulai terbius oleh asiknya snorkling dan bermain-main di taman laut hingga seakan melupakan waktu dan teriknya matahari.

under water

under water

Seusai merasakan yang namanya “capek” dan kulit jari sudah berkeriput karena terlalu lama terendam air, kami menyudahi saja eksplorasi di akurium raksasa ini. Setelah membilas diri dengan air pantai (sama aja gak bilas), segera kami membasahi jok sepeda motor dengan kucuran keceriaan kami selama 90 menit sebelumnya.

Tujuan kami berikutnya adalah air terjun di tengah Pulau Weh yang hanya berjarak sekitar 15 menit dari pantai Iboih. Namun, ketika kami telah sampai di pertigaan menuju ke lokasi air terjun, kami sempatkan sejenak singgah ke sebuah warung makan untuk mengisi tenaga tak kami sadari telah terkuras ketika asyik snorkling. Setelah puas beristirahat sejenak, perjalanan dilanjutkan menelusuri jalan setapak beton yang ternyata hanya separuh perjalanan menuju ke air terjun. Setelah memarkir kendaraan, perjalanan berlanjut dengan jalan kaki menyusuri sungai kecil yang jernih. Baru 5 menit berjalan, suara air terjun telah membelai ruang dengar kami diantara gemersik dedaunan tertiup angin. Sebentuk kolam kecil tepat di bawah gemericik air terjun seketika tertangkap mata ketika kami tiba. Tak perlu ditebak lagi apa yang kemudian terjadi, kesunyian kolam air tawar menyegarkan itu seketika terpecah oleh gelak tawa kami yang tengah asyik berenang dan bersendau gurau sambil membersihkan sisa bulir-bulir halus garam mengering ditubuh.

perjalanan

hampir sampai

bilas

Mini Volcano atau gunung berapi mini menjadi tujuan kami berikutnya dengan hanya berbekal peta wisata pulau Weh. Setelah menelusuri jalanan sambil sesekali bertanya masyarakat, laju kendaraan terhenti di ujung jalan paving desa Jaboi. Langkah demi langkah ayunan kaki pelan menelusuri jalan setapak beraroma belerang yang semakin pekat, membawa sebingkai pemandangan hamparan luas penuh serpih-serpih bonggol kayu menghitam berserakan diantara bongkah-bongkah bebatuan berselimut tanah berpasir memutih seketika memenuhi ruang pandang mata. Desis hembus sulfur dari rongga-rongga tanah menguning terus menemani langkah-langkah menjelajahi hamparan Gunung berapi Jaboi, sambil sesekali kami berhenti di antara tiang-tiang asap sulfur tipis untuk membetulkan letak kain penutup hidung yang ternyata belum cukup ampuh menahan pekatnya aroma belerang. Ternyata, garangnya teriknya sinar matahari tropis dan panas udara terpanggang panas bumi menjadi komposisi yang sangat pas untuk membuat tubuh kami terasa sangat lelah dan kering (ya pastilah, dipanggang dari atas sama bawah nih... :P)

jalan lagi

tumpukan batu

lubang kuning

sekitar mini vulcano

Meninggalkan Jaboi dan keunikan geothermal-nya, perjalanan kembali berlanjut menuju pesisir sisi selatan Pulau Weh, Pantai Keunekai. Putihnya pasir dan birunya air laut terus menggoda mata ketika kendaraan kami melaju di jalanan yang terus menyisir garis pantai dari daerah pesisir pantai di barat daya hingga selatan pulau Weh. Tak berapa lama, kami telah kembali bercanda di atas hamparan pasir putih pantai Keunekai. Meski matahari tropis masih terik memanggang, tak ada sedikitpun rasa jerih untuk kembali menikmati lembutnya pasir hangat di jemari kaki dan kulit kami yang mulai beranjak menghitam.

keunekai

Meski belum puas bermain-main di pantai (padahal sepertinya seharian ini ke pantai terus nih.. hehe), matahari telah beranjak ke arah barat, mengingatkan kami segera berkemas dan beranjak ke destinasi selanjutnya, yaitu merasakan berendam di satu sumber air hangat yang menurut peta berada tak jauh dari pantai Keunekai. Namun, sepertinya keberuntungan tidak berpihak pada kami kali ini. Keinginan melebur keletihan dalam balutan kehangatan salah satu sumber air panas di pulau Weh akhirnya harus menguap begitu saja karena tak banyak informasi rute dan keterangan yang bisa kami dapatkan disepanjang perjalanan (sayangnya tak sedikitpun terbersit dalam benak kami untuk bertanya kepada penduduk sekitar... duh...). Tanpa terasa kendaraan terus melaju hingga Pelabuhan Balohan, tempat kami pertama kali menapakkan kaki di Pulau Weh. Di pelabuhan penghubung pulau Weh dan Banda Aceh itulah akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke penginapan di kota Sabang yang hanya berjarak sekitar 7 km dari teluk Lho Balohan.

sampai berjumpa lagi

Petualangan menelusuri pulau di ujung barat Indonesia ini akhirnya berakhir dengan perburuan kuliner setelah puas membersihkan diri dari debu jalanan dan mengistirahatkan tubuh letih kami. Selimut rintik gerimis membuat kegelapan malam terasa semakin pekat karena hamparan mendung tak mengijinkan rembulan yang tengah purnama membagikan cahayanya sedikitpun. Namun, sepertinya dingin udara dan kesunyian malam hal malah membuat kami semakin asyik menikmati lezatnya sate Gurita di salah satu sudut kota Sabang. Tak terbayang bila hanya dalam hitungan jam saja kami akan segera meninggalkan pulau Weh dan kembali pulang ke Banda Aceh. Meski waktu terasa terlalu cepat berlalu dan sesekali mencuat rasa belum puas karena masih banyak tempat yang belum kami sentuh, tetapi kali ini tak sedikitpun ada keinginan berlama-lama menikmati kesunyian malam. Bayang-bayang tumpukan perlengkapan dan perbekalan yang belum terpacking di penginapan terus menerus menghantui benak dan memaksa kami beranjak kembali ke penginapan seiring dengan terus bergulirnya malam yang semakin larut. Akhirnya kami tutup perjalanan kali ini dengan langkah-langkah pelan sambil terus melantunkan rasa syukur di setiap ayunan kaki atas kesempatan menikmati salah satu surga tersembunyi di sudut kepulauan Indonesia ini.

Salam Landscaper :D

(edited by : Wisnu Wisdantio)


Ghozali Qodratullah Ghozali Qodratullah (OTTO)

Facebook : www.facebook.com/ghozaliq
Ghozaliq.wordpress.com

Menggeluti fotografi landscape bagai panggilan jiwa bagi penghobi naik gunung kelahiran Purwokerto namun besar di Banjarnegara ini. Ketajaman indera pengelihatannya menangkap gurat-gurat paras sang alam sudah mulai terasah sejak masih menjalani masa kuliah di jurusan Geografi. Kini, menjelang detik-detik penarikan dari tempat penugasan membuat semakin berhasrat untuk menuliskan apa yang telah terjalani selama di provinsi Aceh dan mengabadikan apa yang tertangkap mata, ditemani Canon Eos 550D lengkap denganlens kit 18-55mm dan setumpuk filter optic pro (UV, FLD, CPL, ND8) dalam berbagai eksplorasi yang terus dilakukannya sambil menuai berbagai kisah utuk ditebarkan sebagai racun keindahan bagi teman-temannya.

 

Comments   

 
#1 aka 2013-01-25 02:24
keren ndan :lol:
 

Add comment

Security code
Refresh

tebarkan "racun" ini ke teman-teman anda :D

FacebookMySpaceTwitterDiggDeliciousStumbleuponGoogle BookmarksRedditTechnoratiLinkedinRSS FeedPinterest

ikuti update terbaru melalui

Update via Email

Dapatkan informasi terbaru seputar update website, event hunting dan traveling, ebook terbaru
GRATIS melalui email Anda

silakan masukan alamat email Anda :


*kerahasiaan data Anda akan terjaga dan hanya digunakan untuk informasi update

 

FREE-BOOK