Target kami pos 2. Masih sekitar 3 jam perjalanan dari pos 1. Lumayan ada tambahan tenaga setelah perut terisi nasi goreng dan minuman hangat. Langkah kaki kembali menyusuri jalan setapak yang kondisinya semakin menanjak. Langsung tanpa basa basi, selepas pos 1 sudah ditunggu tanjakan di depan.

Salah satu keuntungan berjalan malam ketika mendaki gunung adalah pandangan kita hanya terfokus di depan kita, tidak bisa melihat tanjakan demi tanjakan terjal yang menanti di depan kita. Selain itu udara yang cukup dingin membuat badan kita kalau digunakan untuk bergerak tidak terlalu panas, dan tentunya lebih menghemat persediaan air minum karena tidak banyak berkeringat. Tapi selain keuntungan cukup banyak juga kerugiaannya. Karena pandangan terbatas, jadi kita tidak bisa memilih jalur jalur mana yang kira kira sedikit banyak rintangan. Sekali kita salah memutuskan jalur, ya terpaksa kita harus mencari akal untuk bisa melewatinya. Kalau benar-benar mentok, terpaksa mundur dulu untuk mencari alternatif jalur lainnya. Selain itu kalau kita sering berhenti, udara dingin akan menyergap kita sehingga panas tubuh kita menjadi cepat berkurang. Jadi biasanya kalau waktu jalan malam saya cuma menggunakan kaos fast dry. Tapi kira kira kalau butuh istirahat agak lama saya mengeluarkan jaket supaya tidak terlalu kedinginan. Dan jeleknya lagi kalau perjalanan malam jadi agak susah buat motret hahaha

dinding lemari

Sekitar 1,5 jam perjalanan kami bertemu dengan dinding nyaris tegak lurus yang menghalangi jalan. Awal setelah diinfo Marsono mengenai perjalanan ke gunung Dempo, memang saya mencoba mencari-cari informasi dari teman-teman pendaki lainnya yang sudah pernah ke sana. Dan disebutkan di antara pos 1 dan pos 2 ada yang disebut dinding lemari, karena berupa tembok menyerupai dinding lemari (padahal kalau dilihat ya ndak mirip sih :D). Untuk melewatinya kita harus bergantungan pada tali webbing yang sudah dipasang di sana. Setelah itu kita akan merayap melewati dinding menuju ke emperan di atasnya. Karena kondisi malam dan sedikit gerimis sehingga jalur cukup licin. Saya beberapa kali nyaris terpleset ketika menunggu rekan lainnya satu persatu menaiki dinding lemari.

dinding lemari

{youtube} SoR2MaQCyPs {/youtube}

dinding lemari

Dari dinding lemari menuju ke pos 2 masih separuh perjalanan lagi. Jalur juga tetap tidak berubah, menanjak dan penuh rintangan. Sempat nyaris putus asa ketika tiap beberapa puluh meter kami berhenti karena kondisi fisik Marsono yang mulai terlihat kecapean dan kesakitan. Tapi usulanku untuk mencari tempat yang cukup lapang untuk mendirikan tenda ditolak Marsono. “Target kita pos 2 bek, yang penting masih bisa jalan walau pelan. Lagian keliatannya tidak ada tempat buat mendirikan tenda sebelum pos 2 deh kalau melihat jalurnya seperti ini” imbuhnya. Hia sih, sedari tadi kita jarang sekali melihat tanah lapang yang cukup lebar untuk mendirikan tenda, yang ada hanya jalur sempit dan menanjak.

Sekitar pukul setengah dua belas malam akhirnya kami tiba juga di pos 2. Hanya ada satu tenda yang berdiri di sana. Terlihat dengkuran lembut seakan tidak terganggu dengan kehadiran kami yang ribut memasang tenda karena gerimis semakin bertambah lebat, dan kondisi di pos dua cukup terbuka.

Dua tenda akhirnya selesai didirikan, Marsono dan Marko di tenda satu, saya dan pak Maryono di tenda satunya lagi. Tak lupa membuat kopi hangat dulu untuk menghangatkan tubuh yang sudah mulai kedinginan karena cukup lama berdiam di satu tempat. Saya sudah mulai masuk ke dalam sleeping bag sedangkan Pak Maryono menyelimuti diri dengan karung yang dibawanya dari rumah. Dan tak lama kemudian saya sudah terlelap karena capek dan mengantuk.
– – –
Sekitar pukul 1 saya terbangun karena dingin. Ternyata pintu tenda masih dibiarkan terbuka, karena capek saya lupa menutupnya. Setelah itu kembali saya pulas dalam mimipi
– – –
Kembali saya terbangun, saya lihat waktu di jam tangan menunjukan pukul 3 pagi. Saya lihat pak Maryono juga terbangun. “Jam piro mas?” ucapnya dalam bahasa jawa. O iya.. pendakian gunung Dempo ini mendaki gunung di Sumatera rasa Jawa. Karena kami berempat berbicara dengan bahasa jawa. Pak Maryono yang sudah dari kecil tinggal di kampung 4 juga masih fasih berbahasa jawa karena orang tua nya dulu dari Banjarnegara dan ikut program perkebunan teh sejak beberapa puluh tahun yang lalu. “Jam 3 pak” balasku. “Saya ndak bisa tidur lagi mas.. dingin banget” ucap pak Maryono yang meringkuk kedinginan. Ternyata sleeping bag sarung yang dipakainya tidak bisa menahan hawa dingin pos 2. “kaki saya dingin banget” tambahnya lagi. “Mau pakai kaos kaki saya pak?” tanya saya karena masih ingat saya bawa 3 kaos kaki buat cadangan. Dan kembali setelah itu headlamp dimatikan dan kami kembali tidur hingga pagi tiba.