DI Yogyakarta
gumuk pasir Parangtritis
- Details
- Parent Category: Jawa
- Category: Yogyakarta
- Written by Widhi bek
- Hits: 5183

Malam bertabur bintang. Kelap kelip jauh di atas sana. “Adakah kehidupan di sana” yang mungkin juga sedang memandang ke langit mereka dan memikirkan yang seperti sedang kami pikirkan saat itu. Kami beruntung langit malam itu cerah sekali. Kami duduk di atas pasir yang lembut sembari sesekali memandangai lampu motor yang lewat di jalan raya di bawah kami. Indahnya malam di gumuk pasir parangtritis ini.
Ajakan jalan ke parangtritis ini sebenarnya (Seperti biasa) merupakan ajakan mendadak. Sebelum malamnya kontak dengan kang Sigid, salah satu dedengkot regional jogja forum NGI. “hunting yuk” dan dibales dengan janjian jalan ke parangtritis. Kumpul jam 3 sore di depan pintu masuk kampus ISI tapi karena review foto di workshop yang musti antri sehingga saya baru sempat nongol jam 4 lebih. Sudah menunggu di sana kang Sigid dan Tony Mahendra, salah satu fotografer yang terkenal dengan foto2 yang indah tapi membuat saya berpikir apa makna di balik foto foto bidikannya. Ada juga agung “kodok” yang mendapat info dari postingan di fanspage FB nya LI. Menyusul kemudian Hendrik yang mendapat info hunting dari media social yang disebar oleh om Purwo.

Berempat kami membelah jalan Parangtritis. di salah satu tepian sungai terlihat matahari yang berwarna kekuningan memantul dengan sempurna di atas permukaan airnya.. ingin hati berhenti sejenak tapi takut terlambat menyaksikan matahari terbenam di lokasi tujuan. Jadilah keindahan refleksi alami tersebut hanya direkam di dalam ingatan.
30 menit kemudian kami mulai memasuki pintu gerbang dan membayar ongkos masuk kawasan Rp. 4.000/orang. Sempat berdiskusi sejenak lokasi tujuan untuk mengabadikan matahari terbenam yang tidak terlalu jauh karena matahari sudah mulai mendekati horizon. Atas usulan Hendrik kami pun masuk ke kawasan bukit pasir yang dikenal dengan sebutan gumuk pasir (sand dune).

Ada yang menarik dari gumuk pasir di parangtritis ini, karena menurut referensi merupakan satu satunya gumuk pasir yang ada di Indonesia bahkan Cuma ada 4 negara di dunia yang mempunyainya. Membentang dari pantai di sebelah selatan Jogja hingga sebelah selatan Kebumen (sekitar 50-60 km). bentangan yang biasanya kita dapatkan di daerah gurun pasir ini terbentuk karena pengaruh hembusan angin.
Material vulkanik Gunung Merapi yang terbawa arus aliran Sungai Progo dan Sungai Opak yang menuju ke laut selatan. Sesampainya di muara, material vulkanik tersebut dihantam ombak laut selatan yang mengerus sehingga berubah menjadi butiran pasir halus. Butiran pasir dibawa oleh angin yang kuat ke daratan. Di daratan butiran pasir tersebut bergerak mengikuti hembusan pasir. Angin yang cukup kuat di musim peralihan meniup partikel pasir yang cukup besar sehingga lama kelamaan terbentuk gumuk-gumuk pasir itu. Proses pembentukan gumuk pasir ini memakan waktu ribuan tahun. Amazing bukan.. bahkan menjadi salah satu warisan dunia (world heritage).
Di sana ada penitipan motor yang juga merupakan warung makan. Ada papan bertuliskan lokasi pemotretan pre wedding dan syuting film :D.
Pasir lembut dan hangat menyambut kedatangan kami yang menapaki bukit mengejar matahari terbenam. Alur pasir membentuk texture seperti riak ombak. Memanjang dari bawah hingga ke atas bukit. Jadi berasa sedang berada di salah satu gurun pasir yang biasa di lihat di discovery channel euy.
Agak jauh di depan kami terlihat sesi pemotretan model yang menggunakan gaun berwarna putih menari nari diiringin kilatan lampu flash. Saya sendiri lebih banyak berkutat mencoba mengabadikan keindahan alam yang membentang di depan mata.
Matahari terbenam tak lama setelah kami tiba.. meninggalkan jejak kemerahan di langit yang biru muda kepucatan. Sebelum beranjak pulang kami mencoba mengabadikan keindahan senja.


teringat saran seorang rekan, jangan langsung pulang ketika matahari sudah terbenam karena terkadang langit akan berwarna oranye atau keunguan meninggalkan jejak cahaya terahkir

Dan entah siapa yang duluan punya ide, tak berapa lama kemudian kami berempat mulai sibuk mengabadikan keindahan malam yang bertaburan bintang.

Sembari bersyukur untuk keindahan alam yang sudah kami nikmati ini.
Related articles :




Comments
thank you
RSS feed for comments to this post