Bulatan matahari berangsur tenggelam di ufuk barat, menyisakan langit oranye yang sebentar lagi pupus berganti gelapnya malam. Motor kami baru saja tiba di rumah penduduk, tempat kami meninggalkan motor dan berganti moda kaki untuk menuju puncak Laskar Pelangi. Pupus sudah rencana kami untuk menikmati matahari terbenam di atas puncak Bukit Laskar Pelangi.

Puncak Bukit Laskar Pelangi terletak di perbatasan kabupaten Sukoharjo – Wonogiri, di kecamatan Bulu dan Manyaran. Perjalanan berdelapan orang kemarin kami tempuh dengan menggunakan 5 sepeda motor. Tujuan awal sebenarnya satu paket perjalanan dapat sunset – milky way – sunrise. “lik, aku sesuk jam 8 meh meeting ning sekolahan ki, yen mung nganti bengi wae pie ? yen do pengen sunrise aku tak balik disik yo rapopo”, Marsono mengirim pesan di grup karena informasi dadakan harus meeting di sekolah besok paginya. Karena dari awal memang kami sekedar berkumpul melewatkan waktu ya akhirnya diputuskan ndak usah sampai pagi, tengah malam pulang, yang penting bisa ngumpul-ngumpul dan makan bersama di alam.

Perjalanan menuju kampung terakhir melewati jalan raya Solo – Sukoharjo, dan berbelok ke arah pertigaan Tawang. Setelah itu menyusuri jalan berkelok naik turun bukit dan masuk ke jalan desa hingga tiba di rumah terakhir yang biasa digunakan oleh para pengunjung memarkir motor nya di sana.

Sayang karena tadi sempat agak molor waktu berkumpul jadi kami tiba di lokasi disambut sang surya yang sudah terbenam. “mboten mampir rumiyen mas, niku mendung le”. Kami semua melihat di atas bukit memang mendung abu abu mengelayut cukup gelap. “mboten bu, niki langsung mawon” “ngantos enjing nopo pripun mas, motore diunggahke mawon teng teras”. Kami merasakan sambutan hangat dari penduduk, ciri khas masyarakat yang masih terjaga sampai sekarang kalau bepergian ke kampung.

ceret pelipur lara
ceret pelipur lara

Bahkan kami dibawakan  ceret untuk memasak air, ketika kami menanyakan bisa minta air putih untuk nanti memasak di atas puncak bukit.

view dari bukit laskar pelangi
view dari bukit laskar pelangi

“adoh ra ki munggahe ?” Adit Negro bertanya ketika kami mulai melangkahkan kaki meninggalkan rumah. Jalan menuju ke puncak bukit Laskar Pelangi memang cuma bisa dengan berjalan kaki. Icuk yang sudah menggunakan senjata andalan tongkat gunungnya sudah berjalan di belakang Marsono yang seperti biasa berjalan paling depan dan ngebut.

rombongan ha ha hi hi
rombongan ha ha hi hi

Di bagian belakang rombongan ha ha hi hi, Adit Negro, Dwi Kebo, Catur, Andi, Suryo dan Boogie mulai berjalan pelan sembari sesekali terdengar ketawa cekikikan ketika jalur yang kami naiki mulai menanjak.

musafir
musafir hahaha

Sebenarnya jalur yang kami lewati tidak terlalu panjang, paling hanya sekitar 20-30 menit kami sudah tiba di bagian bawah puncak. Tapi kemarin begitu kami tiba di kaki puncak, angin kencang membuat kami agak enggan melangkahkan kaki ke puncaknya. Kebayang di bawah aja anginnya bisa bikin kami miring miring apalagi di atas yang cuma gundukan batu tanpa tempat berlindung.

lampu kota di kejauhan
lampu kota di kejauhan

“solo utara infonya hujan lik” informasi dari grup solo ketika di atas sinyal internet lebih stabil kami terima. Beberapa kali kami agak was was karena mendung yang cukup gelap melingkupi bukit tempat kami berisitrahat sekarang. Beberapa titik air sempat turun dan membuat kami memikirkan kalau nanti benar-benar turun hujan kami harus menyelamatkan peralatan kamera kami.

Sayang langit malam kemarin kelam tertutup awan. Bintang hanya sesekali muncul dan kemudian kembali hilang. Marsono yang dari tadi menghilang muncul kembali dengan membawa beberapa batang kayu kering untuk kami jadikan api unggun. Masing-masing kebagian jatah membawa batang pohon kering ke atas, susah senang jalan bersama hahahahaha..

berkumpul dan berbagi cerita
berkumpul dan berbagi cerita

Di atas sudah ada beberapa teman dari sekitaran Sukoharjo yang sudah terlebih dahulu membuat api unggun. Peralatan masak yang sudah dipersiapkan dari bawah kemudian mulai digelar. Tas ransel Marsono begitu dibongkar ternyata berisi 13 jagung kecil mungil entah ada bijinya ndak, kentang, arang seplastik dan peralatan masak wkwkwkw.

bumbu bumbu
bumbu bumbu
persiapan bumbu makan malam
persiapan bumbu makan malam

“luwe ki, sing ndang iso dipangan opo?” Suryo yang dari tadi diam mulai bersuara karena mulai lapar. Tapi karena bekal yang dibawa memang dipersiapkan untuk makan malam jadi ya kami harus mulai masak memasak dulu. Sebenarnya tadi pas berangkat kami mampir ke salah satu supermarket yang cukup besar di Sukoharjo untuk membeli bekal. Tapi karena libur lebaran jadi roti tawar yang rencananya untuk bikin sandwitch malam ini terpaksa diganti menunya.

memasak di puncak bukit laskar pelangi
memasak di puncak bukit laskar pelangi

Tak lama kemudian dua kompor trangia sudah mulai menyala, Satu untuk memasak air satu untuk membuat bahan untuk barbequa nanti. Tusuk sate sudah mulai dipenuhi dengan nugget, sosis, bakso dan telor peyuh tak lama kemudian mulai berpindah di atas pembakaran arang.

menyiapkan sate sosis nuget
menyiapkan sate sosis nuget

Untungnya lokasi di atas merupakan bukit batu. Di beberapa bagian batu yang berlubang kemudian diberi arang dan bara api, dan acara bbq di puncak bukit Laskar pelangi pun dimulai.

puncak bukit laskar pelangi
ceret – kentang dan api unggun

Kentang yang dikemas dengan alumunium foil juga sudah ditaruh di perapian yang menyala. “masak kentang nya model bakar di api unggun aja ya, jadi ndak jadi nanti kita lihat saja” chef Marsono dengan menu masak ala ala nya sudah sibuk mengatur kami di posisi masing-masing. Icuk dan suryo sibuk dengan urusan memasang satu persatu komponen di sunduk sate bbq. Saya kebagian membakar jagung di api unggun, sedangkan yang lainnya sibuk dengan aktivitas masing-masing. Lha ini catur yang katanya mau bikin video malah cuma bobo nyenyak, pewe dia. Pindah tempat tidur aja ternyata hiahahaha.

view malam sukoharjo dari puncak bukit laskar pelangi
view kota sukoharjo dari puncak bukit laskar pelangi

Setelah semua selesai disiapkan, Marsono menyiapkan alas untuk makan. Nasi putih empat bungkus yang dibeli di pinggir jalan tadi digabung dengan sate sosis nugget bakso dan telor puyuh plus kentang api unggun. Menu sederhana tapi karena dimakan di puncak bukit bareng teman-teman berasa istimewa. Maka benar lah pepatah yang mengatakan makan makan karo kumpul. (padahal sebenarnya mangan ora mangan penting kumpul tapi dimodifikasi wkwkwkw)

di atas puncak bukit laskar pelangi
di atas puncak bukit laskar pelangi

Langit masih belum menampakan bakalan cerah dalam waktu dekat ini. Bulan sabit semakin turun mendekati kaki langit. “Pie ki, meh nunggu apa pulang saja?”. Sepertinya memang malam ini kami kurang beruntung untuk mendapatkan foto milky way. Tapi memang salah satu seni memotret pemandangan kan bersiap untuk yang terburuk dan berharap yang terbaik.

Masih ada banyak waktu lain untuk menikmati malam indah bertabur bintang. Seperti pernah salah satu teman kami berucap, masing masing perjalanan itu punya cerita yang berbeda. Dan malam ini cerita kami tentang makam malam bertemankan api unggun di puncak bukit Laskar Pelangi. Next time kemana lagi kita ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *