Menggapai Bira (cerita pertama)

Berawal dari keinginan adik saya, Yohan yang ingin menghabiskan masa cuti akhir tahun dengan berlibur ke Bali. Dan karena alasan belum pernah sama sekali ke Bali, maka saya yang sudah beberapa kali ke sana didapuk untuk membikinkan itinerary perjalanan liburannya. Agak ngeri juga ketika melihat harga tiket pesawat yang tertera untuk penerbangan Jogja – Denpasar pada akhir tahun ini sebagian besar sudah di atas angka 1 juta. Padahal normalnya kalau tidak salah sekitar 300-400 ribuan pada hari biasa. Dan ketika ditanya mau kemana saja di Bali.. jawab adik saya enteng banget.. terserah.. lha wong belum ada bayangan sama sekali.. eaaaa.. capek deh..

Setelah beberapa lama utak-atik beberapa website layanan penerbangan online diputuskan untuk mengambil rute jogja – makassar – bali dengan pertimbangan harga tiket pesawat tidak begitu jauh beda, selisih sekitar 200 ribu tapi bisa mendapatkan tambahan lokasi di sulawesi selatan, tidak hanya Bali. Mengambil tujuan ke Makassar karena Toraja mungkin bisa menjadi tujuan yang menarik dan cukup unik. Selain karena keindahan alam, juga daya tarik budaya menjadikan Toraja menjadi salah satu tujuan wisata yang tidak bisa dilewatkan. Tapi sialnya Toraja sedang ada event Lovely Desember dan juga sedang dalam masa perayaan Natal sehingga sebagian besar penginapan dan hotel di sana full booked. Selain itu transportasi bus dari Toraja kembali ke Makassar pada tanggal 31 Desember ternyata tidak beroperasi. Sehingga alternatif berkunjung ke Toraja terpaksa dihapus karena tgl 1 Jakarta pagi kami sudah harus meninggalkan Makassar menuju Denpasar.

Akhirnya kembali berkomunikasi dengan beberapa teman yang bermukim di Sulawesi Selatan untuk mencari alternatif tempat yang layak dikunjungi untuk trip akhir tahun ini. Sempat kontak mas Putu Adi, yang ternyata pada saat itu berstatus SSK (Suami Sayang Keluarga) sehingga hanya bisa menawarkan beberapa alternatif tempat. “Coba ke TN Lore Lindu, Pantai Bira atau Wakatobi mas..” ujarnya. Hmmm.. TN Lore Lindu dan Wakatobi nampaknya menarik.. tapi tidak memungkinkan dalam waktu kunjungan yang singkat kali ini. Setelah itu mulai memasukan kata Bira di google. Hasil pencarian cukup bisa membangkitkan minat saya untuk mengunjunginya.. pasir putih seperti tepung, pantai yang tenang dan tentunya tawaran untuk snorkling di beberapa lokasi di dekat sana. Walau ada beberapa blog perjalanan juga yang menuliskan minimnya fasilitas dan juga sampah yang ditinggalkan pengunjung yang mengotori tempat tersebut.

Deal.. Akhirnya kami putuskan Bira menjadi tempat trip akhir tahun 2012 kita bertiga.

Perjalanan ke Bira dari Makassar bisa ditempuh melalui beberapa cara. Alternatif pertama bisa dengan bus dengan trayek Makassar – Selayar dari Terminal Malengkeri. Biasanya berangkat pukul 9 pagi. Kita bisa turun ke dermaga Feri di Bira dan kemudian menggunakan ojek menuju ke pantai atau cukup berjalan kaki. Alternatif kedua menggunakan angkutan umum (kijang atau panther) dari Terminal Malengkeri yang melayani trayek Makassar – Bulukumba, kalau beruntung ada juga yang langsung ke Bira. Tapi biasanya hanya sampai di Bulukumba dan nanti nya disambung dengan angkutan umum (pete-pete) ke Bira. Satu mobil kijang diisi oleh 10 orang (alamak…). Awalnya saya agak kesulitan membayangkan bagaimana bisa 10 orang tumplek blek dalam 1 mobil pikir saya.. dan pada waktu perjalanan pulang baru saya ngeh.. ternyata dashboard tengah yang di dekat rem tangan dilepas dan diganti semacam dudukan sehingga bisa dipakai untuk penumpang :D. Tarif naik kijang ini 60 ribu/penumpang. Alternatif ketiga adalah menyewa satu mobil yang bisa mengantar langsung ke Bira dan bisa diisi dengan rombongan kita sendiri.

Sebelumnya juga sempat kontak dengan Ratih, salah satu pejalan dan juga anggota CouchSurfing Jakarta yang ternyata juga terdampar di Makassar karena rencana ke Toraja nya juga terancam batal karena alasan yang sama. Sehingga kalau jadi ke Bira nanti selain kami bertiga juga akan bergabung Ratih dan teman jermannya, Tobias. Kami berdiskusi dan akhirnya memutuskan untuk menyewa mobil saja dengan alasan lebih menghemat waktu perjalanan. Terima kasih untuk mas Taufik (Opick Aja) dan Putu Adi yang sudah membantu dengan beberapa informasi bagaimana menuju ke Bira dan juga dengan kontak person driver akan menjemput kami nanti. Disepakati bahwa driver akan menjemput Ratih dan Tobias terlebih dahulu di Makassar baru nanti ke Bandara untuk menjemput kami dan setelah itu langsung ke Bira. Biasanya perjalanan ke Bira kalau lancar sekitar 5 – 6 jam dengan jarak sekitar 200 km.

bira merpati - Menggapai Bira (cerita pertama)

29 Desember dini hari, saat kantuk masih menyergap kami sudah nongkrong ceria di ruang tunggu bandara Adisucipto Jogjakarta. Kami beruntung karena teman baik kami Mpok Santong berkenan menawarkan bantuan antar jemput dari kost Johan ke Bandara. Omprengan sahabat kalau istilah kerennya :D. “Biar bisa ketularan semangat traveling kalian” ujarnya saat kami ucapkan banyak terima kasih, bahkan kami masih dibekali roti dan wafer untuk diperjalanan.. wah jadi makin terharu biru nih.. makasih mpok !

Kami menggunakan penerbangan Merpati karena direct flight Jogja – Makassar tidak perlu transit. Pada waktu pembelian tiket online di website Merpati juga bisa memilih kursi penumpang tanpa dikenai biaya tambahan. Saya mengambil bangku deretan agak depan 7D – F. “Saya nanti yang duduk dekat jendela ya”, ujarku dengan alasan ingin memotret dari pesawat. Enaknya perjalanan pagi biasanya tepat waktu sehingga menjelang pukul 5.45 kami sudah dipanggil untuk masuk ke dalam pesawat. Setengah kaget dan tak percaya.. pilihan saya mengambil nomer 7 ternyata sial.. tidak ada jendela kaca, hanya dinding polos saja di samping kami.. alamakkk… ya sudah selama perjalanan kami isi dengan molor sepuasnya :p

bira lonelyplanet - Menggapai Bira (cerita pertama)

Perjalanan menuju Bira cukup menyenangkan. Apalagi Tobias, rekan perjalanan kami ini tampangnya bule banget (lha iya.. wong orang Jerman :D) dan berpostur tinggi. 185 cm ujar nya saat saya sedikit mendangak ketika bersalaman. Setiap kali driver kami berhenti, entah untuk membeli rokok atau apa, orang yang ada disekitar mobil kami langsung berkasak kusuk sembari melempar senyum dan berucap good morning misterrrrrr.. bahkan di salah satu warung penjual jagung rebus, kami mendapatkan seplastik jagung rebus gratis dari penjualnya karena senyum si Tobias.

bira jalan - Menggapai Bira (cerita pertama)

bira kuda - Menggapai Bira (cerita pertama)

Driver kami, pak Rapi orangnya juga cukup unik. Di setiap saat tidak pernah lepas dari memencet klakson mobil. Bahkan karena amat sangat sering mengklakson, kami sembari terkekeh-kekeh menjuluki nya sebagai king of horn. Beruntung pak Rapi ini cukup punya banyak koneksi. Terbukti pada saat kami tiba di Bira, karena memang sedang liburan akhir tahun sehingga hampir sebagian besar penginapan sudah dibooking atau ditempati wisatawan lain. Pak Rapi kemudian mengkontakan kami dengan keluarganya yang punya penginapan. Hari pertama nanti kami di penginapan lama di seberang jalan dan besoknya kami bisa pindah menempati penginapan yang lebih baru setelah pengunjungnya pulang. Deal.. kamipun memindahkan barang kami ke dalam kamar dan berucap terima kasih ke pak Rapi. “Balik Makassar kapan bang?” tanya pak Rapi. “31 Desember pak” jawab kami.. “ya sudah nanti kalau mau saya antar lagi sampai makassar.. hubungi saja nanti ya..” balas pak Rapi sembari berpamitan.

Nah sampailah kami di Bira.. saatnya ke pantai ? Tapi teriknya siang itu rasanya membuat kami meleleh. Mau ke pantai masih terasa enggan membayangkan di bara matahari Bira ini. Akhirnya kami berlima hanya duduk di dalam kamar ber AC yang dinginnya kalah dengan udara luar. Sore nanti saja kita ke pantai biar cuaca agak sejuk dulu sekalian menikmati matahari terbenam.

Menjelang jam 4 sore kami berjalan menuju pantai yang hanya sekitar 200 meter dari penginapan kami. Disepanjang jalan menuju pantai terlihat penginapan beraneka ragam yang sudah dipenuhi dengan pengunjung yang akan mengahabiskan tahun baru di sini. Sesampainya di ujung pantai kami pun terpana dengan pemandangan yang ada.. langit biru, ombak yang cukup tenang dan deretan pasir putih sejauh mata memandang.. bukan.. bukan keindahannya yang membuat kami sampai tercengang.. tapi deretan warung di sepanjang pantai yang membuat kami bertanya.. tepatkah keputusan kami ke Bira kali ini ?

Terik mentari masih terasa menyengat walau jarum jam sudah menunjuk angka 5 sore. Deretan warung di sepanjang pantai sudah membuat mood memotret saya menguap dari tadi. Terasa tidak ada bedanya pantai di Bira ini dengan beberapa pantai wisata lain yang di Jawa yang pernah saya datangi. Bahkan di beberapa tempat terlihat sampah berserakan di pasir putih. Mungkin memang lebih tepat pantai Bira ini disebut pantai wisata atau pantai keluarga. Tapi mungkin juga karena saat ini musim liburan akhir tahun sehingga pantai Bira pun juga jadi terlihat ramai dan penuh.

bira ramai - Menggapai Bira (cerita pertama)

bira ramai 1 - Menggapai Bira (cerita pertama)

bira 5ofus - Menggapai Bira (cerita pertama)

Sebenarnya pantai Bira mempunyai pemandangan yang indah. Hamparan luas beningnya laut berpadu dengan pasir putih yang memang lembut mirip tepung. Enaknya pasir di Bira ini tidak lengket jadi enak buat berjalan bertelanjang kaki menyusuri pantai. Tapi dengan banyaknya pengujung harus lebih berhati-hati karena sampah yang dibuang sembarangan oleh pengunjung terlihat menggangu keindahannya.. Jadi sempat merenung.. alam yang indah = dipromosikan = banyak pengunjung berdatangan = penduduk setempat mendapat pemasukan tapi efek negatifnya juga ada, sampah bertebaran mengotori alam.. aihh.. lupakan sejenak pemikiran yang berbelit.. sekarang nikmati dulu saja pantai Bira yang ada di depan mata.

bira restoran - Menggapai Bira (cerita pertama)

Dikejauhan nampak bangunan menyerupai kapal bertengger di atas. Setelah didekati ternyata bangunan kapal tersebut adalah restoran. Jadilah kami memutuskan berdiam di atas kapal sembari menunggu matahari yang sudah mulai lengser ke ufuk barat. Berhubung makanan berat belum siap jadi kami cukup puas dengan memesan minuman dingin sembari menikmati pemandangan yang ada. Dan ternyata pemandangan dari atas restoran ini lebih indah daripada ketika tadi berjalan di sepanjang pantainya. jadi mulailah beberapa frame terekam melalui sensor kamera.

bira foto - Menggapai Bira (cerita pertama)

bira restoran enjoy - Menggapai Bira (cerita pertama)

bira atas - Menggapai Bira (cerita pertama)

bira senja - Menggapai Bira (cerita pertama)

Matahari mulai berangsur tenggelam menyisakan jejak merah di atas cakrawala. Saatnya kami kembali ke penginapan dan melepaskan lelah. Sesaat setelah sampai penginapan, kami mulai mengantri siapa duluan yang mandi… tapi sialnya ternyata air keran tidak nyala.. beruntung tadi sempat memenuhi ember dengan air sebelum berangkat ke pantai. Tapi jadilah malam itu kami hanya gosok gigi dan cuci muka. Menurut informasi ternyata air bersih harus dibeli oleh pihak penginapan, dan kami kurang beruntung malam itu air bersih di penampungan sudah habis…Nasib… nasib…

(bersambung . . .)

eh malamnya karena ndak bisa tidur jadi kami bertiga keluar mencari udara pantai. Tidak lupa membawa kamera dan tripod siapa tahu cuaca cerah. Berbeda dengan siang tadi yang penuh dengan pengunjung malam ini sepi hanya ada debur ombak dan beberapa insomnia-ers yang berkeluyuran di pantai. Jadilah malam itu beberapa frame terekam dalam sensor kamera.

bira malam - Menggapai Bira (cerita pertama)


>