Milky way : canon 450D vs canon 6D

Pada saat hunting meteor Eta Aquarids minggu lalu, berkesempatan membawa 2 body kamera. Canon 450D dipadu dengan lensa canon 10-22 mm dan Canon 6D dicolok lensa samyang 14 mm. Yuk mari kita bahas kedua peralatan kakak adik itu untuk mengabadikan milky way.

Lensa Canon 10-22 mm vs Samyang 14 mm 

Lensa Canon 10-22 mm spesifikasi : 

Focal Length & Maximum Aperture 10 – 22mm; 1:3.5-4.5
Lens Construction 13 elements in 10 groups
Diagonal Angle of View 107° 30′ – 63° 30′
Focus Adjustment Inner focusing system, with focusing cam
Closest Focusing Distance 0.24m / 0.79 ft.
Zoom System Ring USM
Filter Size 77mm
Max. Diameter x Length, Weight 3.3″ x 3.5″, 13.6 oz. / 83.5 x 89.8mm, 385g

Samyang 14mm F/2.8 IF ED MC Aspherical lens specifications

Focal length 14mm
Angle of view (Full-frame) 114º
Angle of view (APS-C) 92.5º
Maximum aperture F2.8
Minimum aperture F22
Lens Construction

14 elements/12 groups

Number of diaphragm blades 6
Minimum focus 28 cm
Lens Mount

Canon, Nikon, Sony, Pentax

Aperture / bukaan lensa : Lensa Canon 10-22 mm mempunyai bukaan terlebar f/3.5 sedangkan samyang 14 mm bukaan terlebar f/2.8. Jadi ada keunggulan bukaan lensa samyang 14 mm lebih rendah 2/3 stop dibanding lensa canon 10-22. Ini nanti berhubungan dengan seberapa cepat sensor kamera menangkap cahaya yang diperlukan. Jadi Samyang 14 mm ini mempunyai keunggulan lebih cepat menangkap cahaya dibanding lensa canon 10-22.

Focus : Lensa 10-22 mm punya fasilitas auto focus, sedangkan lensa samyang 14 mm cuma bisa manual focus. Tapi itu tidak terlalu signifkan untuk memotret malam, karena untuk mendapatkan focus ke cahaya bintang harus menggunakan manual.

Sudut pandang (angle of view) : canon 10-22 sudut pandang 107o sedangkan samyang 14 mm sudut pandang 114o. Lumayan signifikan juga perbedaannya

Focal Length : canon 10-22 mm walau mempunyai FL 10 mm tapi karena hanya bisa digunakan di kamera APS-C yang mempunyai factor 1.6x sehingga kalau difull frame menjadi setara dengan 16 mm. Sedangkan samyang 14 mm karena memang bisa dipergunakan di kamera full frame sehingga FL nya tetap 14 mm. Perbedaan 2 mm untuk mendapatkan milky way yang menggores langit memenuhi frame lumayan cukup berbeda. (bisa dilihat pada hasil foto kedua lensa tersebut pada foto di bawah). Tapi perlu diingat juga makin lebar FL nya berarti makin banyak yang akan masuk ke dalam frame, jadi untuk komposisi harus lebih berhati-hati supaya frame tidak terlihat kosong. 

Shutter speed : Dengan pedoman 500 (saya lebih suka menggunakan 500 dibanding 600) maka dengan canon 10-22 di 10 mm pada APS-C yang setara FL 16 mm maka 500/16 = 31.25 detik, sedangkan dengan samyang 14 mm, maka 500/14 = 35 detik. Itu perkiraan waktu maksimal supaya bintang dan milky way tidak nampak bergerak.

Distorsi : kedua lensa ini mempunyai distorsi yang cukup signifikan. Saya kurang tahu bagaimana cara mengukurnya. Cuma samyang 14 mm ini punya distorsi yang menyerupai kumis (melengkung di kedua sisi – Moustache Distortion). Jadi musti lebih berhati-hati ketika memotret yang ada garis di horizonnya. Walau distorsi kedua lensa ini bisa di”benarkan” ketika post processing.

Kedua lensa ini merupakan lensa yang paling sering saya gunakan untuk memotret. Dulu waktu masih hanya mempunyai canon 450D hampir setiap saat ditemani 10-22mm (memang karena dulu punya nya baru lensa itu sih hahahaha). Tapi setelah upgrade ke canon 6D, agak kesulitan untuk mencari penggantinya, apalagi saat itu hanya punya lensa 24-105 mm. Sebenarnya ada beberapa pilihan pengganti untuk 10-22 mm di full frame, ada canon 17-40, canon 16-35 dan beberapa lensa dari sigma, tamron dll. Tapi kembali lagi budget yang belum cukup untuk menambah lensa lain. Tapi akhirnya kepincut dengan lensa samyang 14 mm, walau hanya bisa manual focus, karena tertarik untuk pemotretan khusus milky way ini. 

Sekarang kita bahas mengenai body kamera kakak adik ya.

Canon 450D vs Canon 6D

Kamera 450D sudah menemani saya dari awal 2009 lalu, jadi sudah 5 tahun bersama baik dalam suka maupun duka #eaaa. Sudah 2 x masuk ke servis tapi masih tetap pakem buat motret. Walau sekarang sudah mulai banyak debu yang menempel di sensor minta dibersihkan. Dengan iso maksimal 1600 dan itupun dengan noise yang sangat mengganggu, sebenarnya kurang tepat buat motret milky way. Tapi karena awalnya dulu saya kenalan dengan milky way juga menggunakan kamera 450D ini jadi masih sering saya bawa buat backup kalau sedang hunting. Kendala terbesar untuk memotret milky way memang di iso yang mentok di 1600. Karena dengan lensa 10-22 mm maksimal kecepatan sebelum bima sakti mulai terlihat bergerak adalah 30 detik. Sedangkan dengan bukaan lensa terbesar f/3.5 dengan iso 1600 dan speed 30 detik hasil yang didapatkan kurang terlalu bagus. Masih agak under exposure. Kontras dan warna bima sakti agak sedikit kurang bagus karena noise dan juga under exposure.

Kalau mau dipaksa dengan speed 40 detik atau 1 menit mungkin bisa dapat exposure yang lebih pas, tapi bintang dan milky way akan terlihat bergeser. Alternatif lain supaya bisa mendapatkan hasil milky way yang lebih baik antara lain bisa menggunakan lensa dengan bukaan yang lebih lebar misalnya lensa tokina 11-16mm yang mempunyai bukaan terlebar f/2.8.

Saya mencoba menggunakan lensa samyang 35 dengan bukaan f/1,4 juga. Tapi dengan kamera APS-C sehingga FL 35 mm setara dengan 56 mm di full frame, sehingga waktu maksimal sebelum bintang dan bima sakti bergeser adalah 8.9 detik.. alamakkk.. jadinya sama saja kan.. bukaan lebar f/1.4 tapi karena FL 35 mm sehingga waktunya juga menjadi lebih singkat. Selain itu kendalanya ketika menggunakan lensa samyang 35 adalah sudut pandangnya menjadi terbatas, sekitar 63sehingga kita hanya bisa mengambil komposisi bagian terterang dari bima sakti saja, tidak bisa mengambil keseluruhan bima sakti. Alternatif komposisi antara lain menggunakan foreground yang menarik, seperti siluet ranting pohon dan menggunakan bima sakti sebagai background nya. 

Kamera Canon 6D, hmmm sepertinya tidak salah dulu membongkar tabungan untuk membeli kamera ini. Canon 6D mempunyai range iso yang cukup tinggi dari 100 – 25.600 (bisa diexpand iso 50 hingga 102.800 alaammmmaakkk, tapi tidak disarankan karena noise nya yang weleh weleh). Dari pengalaman dengan menggunakan iso 3200 – 6400 (tergantung beberapa kondisi) kita sudah bisa menghasilkan foto bima sakti yang bagus. Noise memang terasa di iso 6400 tapi masih lebih aman dibanding dengan iso 1600 nya canon 450D. 

Dengan iso 3200 – 6400 dan menggunakan lensa samyang 14 mm bisa kita memaksimalkan speed 30 detik supaya data bima sakti yang terekam sensor kamera cukup banyak. Bima sakti yang tertangkap masih mempunyai detail warna dan kontras yang merata. noise juga tidak terlalu mengganggu.

Beberapa kali saya mencoba langsung mengunggah file jpg dari kamera ke social media tanpa editing karena merasa hasilnya sudah cukup bagus. Tapi memang kalau mau lebih maksimal lagi kita wajib menggunakan file raw ketika memotret bima sakti. Beberapa alasan menggunakan file raw antara lain, white balance lebih mudah diatur ketika proses editing, selain itu juga noise reduction apabila dari file raw masih cukup flexible pengaturannya. 

Jadi dari hasil test 2 kamera tadi memang hasil yang didapat dari canon 6D ini jauh di atas 450D (yaaa jelass, beda harga, beda tehnologi :p). Tapi dari sekedar test asal-asalan ini saya malah punya ide untuk menggunakan 2 kamera ini apabila lain waktu dibawa untuk memotret malam untuk keperluan yang berbeda-beda. Canon 6D + samyang 14 mm tetap akan digunakan sebagai kamera utama untuk memotret milky way. Sedangkan kamera 450D + canon 10-22 mm akan digunakan untuk time lapse atau star trailan. 

Di bawah ini hasil foto dari 450D + 10 – 22 dan canon 6D + samyang 14 mm yang sudah melalui proses editing dari Raw – Jpg

milkyway 450D - Milky way : canon 450D vs canon 6D

milkyway 6d - Milky way : canon 450D vs canon 6D

milkyway samyang 35 - Milky way : canon 450D vs canon 6D

o iya ini perbandingan dari pengalaman selama menggunakan 2 kamera tersebut ya.. kalau ada yang kurang tepat mohon di koreksi

ditunggu juga komentar nya ya 😀


>