Dieng sore itu kurang bersahabat. Semenjak pukul tiga sore tadi hujan gerimis sepertinya merata menyelimuti lembah Dieng. Kabut tipis mulai menggantung, membuat langit yang seharusnya berbintang tidak terlihat sama sekali. Sepertinya akhir bulan Juni 2017 ini masih belum juga cuacanya cukup tepat untuk hunting milky way Dieng.

Walau perjalanan ke Dieng kali ini cuma singkat, hanya satu malam, itupun acara liburan keluarga besar. Jadi ya tidak terlalu berharap bisa ada waktu untuk hunting milky way Dieng. Begitupun ketika melihat ramalan cuaca sebelum berangkat. Malam ketika kami di Dieng nanti kemungkinan berawan bahkan hujan gerimis. Ya sudah, cukup membawa kamera dengan lensa wide, tripod, kabel rilis dan headlamp saja. Kalau ada waktu dan cuaca cerah ya hunting milky way. Kalau cuaca berkabut dan hujan ya menikmati waktu liburan bareng keluarga.

Kami sengaja berangkat dari Solo pagi hari, sekitar pukul 5 kurang karena pertimbangan masih lebaran sehingga takutnya jalanan akan macet karena arus lebaran. Dan benar perkiraan kami, perjalanan lewat Boyololi – Salatiga – Kopeng – Temanggung – jalur kebun teh Tembi – Dieng berlangsung lancar. Sekitar 4 jam perjalanan lebih sedikit kami sudah tiba di Dieng.

kawah sikidang
kawah sikidang
kawah sikidang
kawah sikidang dari atas

Cuaca masih cerah ketika kami tiba di Dieng. Berkunjung sebentar ke kawah Sikidang, makan siang di warung bu Jono dan berlanjut ke candi Arjuno.

candi arjuna
candi arjuna

Setiba di Candi Arjuno cuaca berubah mendung dan langsung turun hujan. Akhirnya sisa sore hari diisi dengan acara santai bareng keluarga di rumah yang kami sewa.

kabut dieng
sore berkabut

Sampai pukul setengah delapan malam cuaca masih belum berubah. Malah kabut yang cukup tebal menutupi sebagian dataran tinggi Dieng. Jalanan yang basah oleh gerimis tadi sore menambah dingin suasana. Akhirnya karena cukup capek dan mengantuk karena cuaca dingin, sekitar pukul delapan malam kurang saya sudah lelap dalam tidur. Tentunya sebelum tidur, peralatan memotret saya simpan di bawah selimut biar tidak terlalu dingin. Baterai kamera juga saya simpan dibungukus kaos supaya tidak drop karena suhu yang cukup dingin malam itu.

Terbangun sekitar tengah malam, cek waktu di handphone sekitar pukul setengah satu malam. Benerin penutup kepala dan sarung tangan kemudian beranjak dari tempat tidur. Keluar penginapan untuk mengecek cuaca.

Brrrr… suhu dingin langsung menyambut ketika keluar dari pintu. Hidung langsung berasa seperti bersentuhan dengan es saking dinginnya. Keluar halaman dan melongok ke atas. Eh ternyata bintang nya banyak. Walau dari depan penginapan saya tidak bisa melihat arah milky way karena tertutup atap.

Berjalan agak jauh sedikit mencoba mencari lokasi yang bisa memandang langit selatan dan ternyata kabut putih milky way terlihat cukup jelas.

Kembali lagi ke rumah, persiapkan kamera, tripod, kabel rilis, baterai cadangan dan headlamps dan segera bergegas keluar rumah. Tak lupa mengunci pintu depan dan membawa kuncinya supaya tidak mengganggu keluarga yang masih pada lelap menikmati mimpi indah di suhu dingin Dieng.

Rencana cuma mencari tempat yang cukup terlindung dari cahaya lampu lampu rumah di sepanjang jalan utama Dieng. Sengaja tidak mencari lokasi yang terlalu jauh karena pertimbangan persiapan yang kurang dan harusnya milky way sudah cukup terlihat karena kondisi Dieng yang cukup tinggi, langit yang cukup cerah dan polusi cahaya yang masih tidak setinggi di kota besar. Belum lagi headlamp yang semalam kelupaan saya masukan ke dalam selimut nampaknya rewel. Baterainya drop sehingga headlamp tidak mau menyala. Padahal sebelum berangkat sudah saya pastikan diisi ulang hingga penuh.

milky way dieng
siap mengabadikan milky way

Akhrinya berhenti di sekitar jalan setapak menuju kebun, tertutup bayangan rumah dan cukup terlindung dari lampu lampu jalan raya. Memasang tripod, menyiapkan kamera dengan setingan manual 30 detik, f/4, iso 6400, dan mengatur komposisi dengan bukit dan milky way Dieng.

milky way dieng
milky way tegak di atas dieng

Bagian bawah cukup terganggu dengan lampu jalan yang berwarna kuning. Bagian langit cukup cerah, walau di beberapa bagian awan putih mulai bergerak perlahan.

Shutter rilis kamera sengaja saya kunci untuk mengambil frame demi frame untuk nanti digabung menjadi star trail dan time lapse kalau nanti dibutuhkan.

This content requires HTML5/CSS3, WebGL, or Adobe Flash Player Version 9 or higher.

Foto merupakan panorama 360, silakan diputar ke kiri kanan atas bawah untuk melihat sekeliling.

Cuaca cukup dingin, dan saya kelupaan tidak membawa celana panjang ke Dieng ini. Terpaksa cukup puas dengan kaos kaki dobel yang menutupi kaki. Sayang tidak ada warung kopi yang buka dekat-dekat situ. Jadi ya ndak bisa begadang sambil nyeruput kopi hangat kali ini.

Sekitar 100 frame kemudian, awan mulai menutupi bagian inti milky way. Jam di handphone menunjukan pukul 2 pagi lewat. Hawa semakin dingin dan belum tahu berapa lama langit akan kembali terbuka dari awan yang sepertinya semakin banyak menutupi langit.

Kamera juga sudah mulai tertutup lapisan embun setelah sekitar satu jam terpasang di tripod. Sepertinya hunting milky way Dieng kali ini harus diakhiri.

Mengemas kembali peralatan dan mengecek tidak ada yang tertinggal dan berjalan kaki menuju penginapan. Kembali melanjutkan tidur dalam hangatnya selimut tebal di penginapan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *