Sudah lama saya tidak merasakan perjalanan dengan menggunakan moda kereta api. Semenjak harga tiket pesawat lebih terjangkau saya sering menggunakan moda transportasi udara untuk bepergian maupun pulang ke rumah di Solo.

Tapi semenjak akhir tahun 2018 hingga januari 2019 kemarin harga tiket pesawat melonjak cukup tinggi. Saya pikir karena liburan panjang natal dan tahun baru. Tapi ternyata belum ada tanda tanda akan kembali turun seperti sebelumnya. Malah ketambahan informasi bagasi gratis akan dihapuskan, menjadi bagasi berbayar. Lengkap sudah penderitaan awal sebagai pejalan berbudget pas-pas an ini hahaha..

baca juga : Beradaptasi dengan tiket pesawat yang menggila

Ketika ada tawaran dari teman untuk membantu dokumentasi pembukaan salah satu kafe tempat nongkrong yang bersuasana diving di Bandung, terpaksa berputar otak mencari solusi transportasi yang tidak terlalu membebani biaya perjalanan.

Gull Cafe Bandung

Pesawat sudah pasti dicoret dari daftar, karena sekarang tidak ada lagi pesawat langsung Solo ke Bandung, kalaupun ada pasti harga tiketnya juga nyap-nyapan hahaha. Solusi paling menarik dengan kereta api. Keputusan akhirnya diambil, tak lama kemudian mulai berburu tiket kereta api di salah satu aplikasi travel online.

Alternatif Kereta Api

Dari Solo ke Bandung ada beberapa alternatif kereta api. Ada yang berangkat pagi dan sampai Bandung sore hari ada juga yang berangkat malam dan tiba di Bandung dini hari. Karena janjian bertemu hari jumat sore ya sudah saya putuskan berangkat yang pagi saja, jadi masih bisa diskusi persiapan untuk acara hari sabtu sorenya.

Lodaya, Argo Wilis, Malabar, Mutiara Selatan, dan Turangga adalah beberapa kereta api yang melayani perjalanan Solo ke Balapan. Pilihan kenyamanan mulai dari ekonomi, bisnis hingga eksekutif.

Yang berangkat pagi dari stasiun Solo Balapan hanya Lodaya dan Argo Wilis. Lodaya ada dua gerbong, ekonomi dan eksekutif. Sedangkan Argo Wilis hanya eksekutif (kalau salah mohon dikoreksi ya)

Tiket kereta bervariasi, kalau pas weekend biasanya harga cukup tinggi, kalau pas di pertengahan minggu harga di batas bawah. Saya sempat cek untuk ekonomi berkisar antara 200-300 ribu sedangakan untuk yang kelas eksekutif dari 300 hingga 380 ribu.

Keberangkatan

Hari H, karena kereta berangkat jam 7.10 pagi saya berangkat dari rumah sekitar jam 6.15 biar ndak terburu-buru. Sampai di stasiun Balapan Solo kereta sudah tersedia. Sudah lama juga saya tidak main ke stasiun Balapan dan sudah banyak perkembangan yang lebih baik.

salah satu sudut Stasiun Balapan

Penggunaan layanan tiket online semenjak beberapa tahun, membuat kita tidak harus mengantri, tinggal beli online, datang ke stastiun tinggal dan tiket kita cetak sendiri di stand pencetakan tiket. Simple dan lebih menghemat waktu.

kereta Lodaya sudah menunggu

Stasiun Balapan juga terkesan rapi, bangku bangku untuk tempat menunggu tersedia di beberapa sudut. Saya memanfaatkan waktu dengan menjepretkan beberapa frame dan kemudian naik ke gerbong, mencari kursi sesuai dengan tiket.

Gerbong Ekonomi Premium

gerbongnya bersih

Ternyata yang saya beli tiket Lodaya adalah ekonomi premium. Lhah apalagi itu ? Bayangan sebelumnya naik kereta ekonomi bakalan punggung tegak karena pengalaman sebelum-sebelumnya begitulah kalau naik kereta ekonomi. Tapi di gerbong ekonomi premium ini kursi menyerupai kursi di gerbong eksekutif, cuma jarak kursi lebih mepet dan juga gerbong terbagi menjadi dua bagian. Separo kursi menghadap ke depan, separo lagi menghadap ke belakang. Wah saya kebagian menghadap ke belakang.

separo hadap depan – separo hadap belakang

“pak, saya bisa pindah kursi tidak, pusing saya kalau menghadapa ke belakang” salah satu wanita di depan saya bernegosiasi dengan petugas kereta. Beruntung kereta saat itu beberapa kursi masih kosong, sehingga akhirnya dipindahkan ke gerbong depan di kursi yang menghadap ke depan.

kursi bisa distel sudutnya

Kursi juga ternyata bisa digerakan sudutnya, kayak kursi eksekutif. Jadi kalau mengantuk tinggal diturunkan posisinya biar lebih nyaman. Di dekat jendela, ada meja kecil, buat meletakan snack atau benda benda kecil. Dan dibawahnya terdapat dua colokan listrik. Sekarang kan colokan listrik jadi salah satu kebutuhan utama perjalanan hahahaha

ada tv juga di tengah

Di bagian tengah terdapat monitor yang memutar lagu-lagu dan beberapa film, tapi paling film yang diputar juga bukan film film terbaru. Paling sejenis komedi komedi. Saya sendiri membawa buku dan beberapa jajanan untuk melewatkan 9 jam di dalam kereta ini.

Perjalanan Siang

Ndak enaknya kalau siang hari perjalanan itu tidak bisa puas tidur, cuma beberapa saat saja. Jadi perjalanan berasa lebih lama dibanding perjalanan malam yang bisa tidur pulas. Tapi enaknya sepanjang perjalanan kita bisa menikmati barisan pegunungan dan persawahan yang dilewati.

Jalur kereta di bagian tengah pulau Jawa memang melewati beberapa gunung. Kalau duduk di sebelah kanan kereta, di awal kita sudah dilepas oleh gunung Merapi, yang saat itu sebagian timur diguyur hujan lebat. Semakin ke barat kita akan disambut gunung Slamet. Begitu masuk ke Jawa Barat gunung Ciremai bisa kita nikmati. Kalau duduk di sebelah kiri, begitu mendekati Garut beberapa gunung menyapa kita, gunung Galungungg, Guntur dan Cikuray.

Begitu juga sepanjang perjalanan kita akan dimanja dengan hijaunya bukit dan persawahan. Rasanya jadi pengen berkeliling dengan motor memutari pulau Jawa buat hunting foto sepuasnya. Ada yang minat ?

kereta berangkat tepat waktu

Kereta berangkat tepat waktu dari Stasiun Balapan Solo, tujuh lebih sepuluh. Derik suara roda besi beradu dengan rel mengawali perjalanan. Saya melahap satu demi satu deretan rumah yang kemudian berganti menjadi persawahan, meninggalkan kota Solo. Tapi pasti tak lama lagi juga pulang kembali ke rumah. Entah dengan kereta lagi, dengan pesawat atau mencoba jalur darat dengan bus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *