gunung-lawu-jalur-candi-cetho

Tenggorokan terasa kering, entah beberapa banyak debu melayang yang terhirup bersamaan dengan ketika hidung menarik nafas, berusaha mengimbangi kaki yang melangkah perlahan menapaki jalan menanjak. Perjalanan ke gunung Lawu jalur candi cetho ini rasanya berjalan di padang gurung, setiap langkah kaki kita akan membuat debu berhamburan, melayang ke segala arah.

Sepertinya sudah lewat masa masa ketika di gunung menghadapi tanjakan demi tanjakan dan diri saya akan saling beragumentasi. Tidak muncul pertanyaan dalam hati mengapa sih cari susah ke gunung. Diri saya saat itu cuma diam, sepertinya sudah paham, karena sudah sering menanyakan hal tersebut ketika awal awal dulu menyukai pendakian ke gunung.

Dulu sering ketika berjumpa kesulitan di gunung, diri saya saling berdebat antara terus maju atau berhenti saja dan menyandarkan tubuh ke batang pohon. Atau ketika otot kaki mulai protes, maka diri saya akan semakin memprovokasi, benerkan, kemarin dibilang ndak usah ke gunung kok ndak mau tahu. Kan lebih enak baca buku di rumah, atau mau game baru. Jadinya selain bergulat dengan medan tanjakan terjal, sering saya harus bergulat dengan diri saya sendiri yang sering tiba tiba nyolot ketika suasana kurang mendukung.

Mata saya cuma nanar ke depan, lampu headlamp menyorot ke jalur setapak yang sepertinya masih belum juga akan bertemu dengan bonus. Debu sisa langkah kaki Marsono masih terlihat melayang. “Kita jalan berjauhan saja, yang penting saling komunikasi dengan suara.”

Marsono yang berada di depan melangkah terlebih dahulu. Saya di tengah dan Cheppy di belakang. Kami berdua menunggu agak jauh terlebih dahulu sebelum nanti gantian saya menyusul.

Dulu Pernah Tersesat

Pendakian gunung Lawu jalur candi Cetho sebenarnya sudah pernah saya jajal dulu dengan teman-teman Compensaser dari ATMI Solo sekitar tahun 97-98. Tapi karena dulu masih belum jalur resmi jadi masih belum banyak penunjuk jalan dan kami tersesat sebelum sampai pos satu hahahaha.. Tapi beberapa tahun ini pendakian gunung Lawu jalur candi Cetho mulai marak. Karena jalur yang sudah rapi dan banyak penunjuk jalan sehingga tidak mudah tersesat. Dan sabana di perjalanan sebelum sampai puncak menjadi salah satu favorit untuk pendaki.

gunung-lawu-jalur-candi-cetho
mulai berangkat
gunung-lawu-jalur-candi-cetho
senja menjelang keberangkatan

Jam 6 sore lebih sedikit, ketika kami akhirnya melangkah meninggalkan basecamp candi Cetho. Sebelumnya kami meninggalkan kartu identitas dan mendaftar di pos pendakian gunung Lawu jalur Candi Cetho. Tak lupa sebelum melangkahkan kaki meninggalkan desa kami bertiga menghaturkan doa. Semoga perjalanan kami diberi keselamatan dan bisa kembali berkumpul dengan keluarga di rumah masing-masing.

Basecamp – Pos 1

gunung-lawu-jalur-candi-cetho
menuju candi kethek

Jalur awal dari basecamp ke pos 1 akan melewati kawasan candi Kethek. Jalan beberapa tempat berupa beton dan makadam hingga sampai ke Candi Kethek. Setelah itu jalan tanah melewati perkebunan penduduk hingga akhirnya tiba di Pos 1 – Mbah Branti.

Pos 1 ini berupa shelter yang cukup luas. Di samping ada sedikit tanah lapang bisa untuk mendirikan tenda. Perjalanan dari basecamp hingga ke Pos 1 sekitar 1 jam perjalanan santai. Jalur juga masih cukup landai, sebagai pemanasan untuk jalur 3 ke 4 yang katanya menanjak.

Pos 1 – Pos 2

Selepas pos 1, jalan semakin berdebu. Sepatu seakan masuk ke pasir setiap kali melangkah. Kumpulan debu tipis langsung berhamburan setiap kali kaki melangkah. “Padahal mlakune wes alon alon yo sik kemebul (padahal jalannya sudah dibikin pelan-pelan tapi ya tetap berdebu). “rodo adoh wae jarake yo” Marsono kembali melangkah di depan, saya menunggu sembari memasukan kamera ke dalam tas ransel.

Beruntung kami berjalan di malam hari. Kebayang kalau siang hari dari basecamp. Selain debu yang pastinya terlihat jelas dan mengganggu mata, juga panas matahari yang masih terasa karena sampai di pertengahan pos 2 nanti baru jalur mulai masuk ke hutan.

Sinar headlamp hanya sebatas jalan setapak beberapa meter di depan, sesekali pandangan di arahkan ke atas untuk melihat suasana, tidak terlalu jauh, selepas itu hanya gelap.

Malam itu hanya kami bertiga yang berangkat dari basecamp candi Cetho sepertinya. Cheppy yang sepertinya kurang fit berjalan cukup jauh di belakang. Saya mencoba menemani di depan sembari sesekali mengatur nafas yang mulai agak kedodoran ketika tanjakan demi tanjakan tidak diselingi bonus.

UWIOOOOOO…. sesekali sahutan Marsono terdengar untuk mengatur jarak supaya tidak terpisah terlalu jauh. YOAAAAAAAIIII Kami menyahut balik memberi tanda bahwa kami masih bisa saling berkomunikasi. Tapi kadang juga karena memang langkah Marsono panjang dan tidak punya capek, ketika kami melempar sahutan sering tidak ada sahutan balik.

gunung-lawu-jalur-candi-cetho
rehat di pos 2

Aroma kopi tercium ketika langkah kaki kami mendekat ke shelter pos 2. “Wes suwe mar?” Marsono tidak menyahut tapi kalau dilihat dari kopi yang sudah mulai tidak terlalu hangat bisa diperkirakan berapa lama Marsono sendirian menunggu di pos 2 ini. Jam di tangan menunjukan pukul 20.40 ketika kami tiba di sana

Dari selebaran yang kami dapatkan di pos pendakian, dari pos ke pos biasa ditempuh dalam waktu satu jam. Nanti pos 3 ke 4 yang lebih lama sekitar satu setengah jam karena jalan yang terjal.

Pos 2 – Pos 3

Setelah mengganjal dengan roti dan kopi, kembali kami berjalan dengan posisi yang sama. Beruntung dari pos 2 ke pos 3 ini jalan tidak terlalu berdebu karena tertutup banyak daun yang jatuh. Marsono tetap melangkah jauh di depan, sedangkan saya agak tidak terlalu jauh dari Cheppy yang dari tadi sudah mulai berasa ada yang kurang beres dengan badannya.

Pos dua menuju pos tiga jalanan masih tetap sama, menanjak tapi cukup banyak bonus. Jalur sudah mulai cukup rapat dengan pepohonan, berbeda dengan jalur pos satu yang masih agak terbuka. Sesekali terdapat tempat agak terbuka, mungkin digunakan para pendaki untuk beristirahat di perjalanan.

Kami banyak berhenti di perjalanan karena stamina sudah mulai merosot. “Sik lik, tak makani pithik sik” Cheppy sempat berhenti lama untuk mengembalikan semangat dan fisiknya. “Bengkoangmu kui sing marai abot chep.. hahahaha” Di perjalanan tadi Marsono sempat membeli bengkoang di pasar buat nanti di makan di pos hahahaha..

gunung-lawu-jalur-candi-cetho
makan malam di sumber air

Sekitar pukul sebelas kami tiba di sumber air. Ada beberapa tenda yang sudah berdiri di samping pipa air yang digunakan untuk mengisi air di jalur pendakian. “Makan dulu ya” bekal nasi dan ayam goreng yang kami beli di pasar tadi kami buka. Mengisi kembali tubuh dengan bahan bakar.

Pos 3 – Pos 4

“Kita usahakan tiba di pos 4 ya” pertimbangan waktu yang sudah mendekati tengah malam dan untuk menjaga stamina buat perjalanan pulang kembali besok.

Di awal, karena memang perjalanan ini dadakan, satu hari sebelumnya baru diputuskan untuk naik ke Lawu. Jadi ya kami tidak punya target harus sampai puncak Hargo DUmillah. Target kami cuma sampai sabana.

Dan tanjakan tanpa henti memang menunggu dari pos 3 menuju pos 4. Nyaris tanpa bonus. Headlamp cuma menerangi langkah kaki, terasa malas untuk mengarahkan ke depan, karena bakalan terpapar tanjakan demi tanjakan.

Sesekali tangan harus berpegangan pada batang pohon untuk mengangkat tubuh melewati tanjakan. Ingatan saya melayang ke perjalan beberapa tahun lalu ke gunung dempo di sumatera.

baca juga : Dinding lemari gunung dempo

Tak terhitung berapa kali kami berharap setelah tanjakan ini akan bertemu bonus, tapi tetap saja yang ada tanjakan demi tanjakan yang menyambut kami.

Bulan separo terlihat di antara ranting pepohonan. Deru angin di atas kami memberi harapan tidak jauh dari kami vegetasi sudah lebih terbuka. Kaki kami terus melangkah perlahan. Ndak usah buru buru yang penting sampai ke tujuan. Marsono entah sudah sampai mana, seruan kami tidak bersahut.

Tiga bintang sabuk orion terlihat jelas di atas kami ketika kami merehatkan tubuh. Minum air seteguk untuk mengganti keringat yang mengucur dari tubuh. Rehat sejenak barang beberapa menit cukup untuk mengembalikan stamina.

gunung-lawu-jalur-candi-cetho
rehat di pos 4

Kerlip lampu terlihat tidak jauh dari tempat kami berhenti. Pos 4 sudah terlihat di depan. “ngopi sik lik” segelas kopi susu sudah siap terhidang. Ransel pun kami letakan di depan shelter. “kita istirahat di sini dulu, besok pagi baru kita rencanakan lanjut ke pos 5”

Rehat

gunung-lawu-jalur-candi-cetho
orion menemani kami beristirahat

Di sekitar pos 4 sudah berdiri satu tenda. Kami mencoba mencari tempat lain yang agak datar untuk mendirikan tenda, tapi dekat dekat situ tidak terlalu banyak pilihan. Mungkin agak ke atas lagi, tapi kami pikir sudahlah tidur di shelter saja. Mantol dan matras digelar di dalam shelter, ransel ditaruh di pojokan dan flysheet kami bentangkan untuk menutupi angin.
Selamat malam, selamat beristirahat…

Terbangun dan melongok ke jam, pukul 7 pagi. Tidur yang cukup pulas dan bangun terasa segar. Roti tawar dan dioles susu menjadi menu sarapan pagi ini. “kita lanjut ke pos 5 yuk” usulku sembari mengunyah roti tawar. “aku jaga barang saja” cheppy masih berselimut sleeping bag seakan memberi kesan bahwa dia masih lelah.. hayati lelah dik…

Ya sudah, jadi barang barang kami tinggal di pos 4, saya dan marsono hanya membawa perlengkapan seperlunya. Air minum dan cemilan buat penambah kalori sudah masuk ke dalam tas kecil. satu kamera dslr canon 6D, satu kamera mirorless olympus omd em 5 mark ii, satu kamera poket canon s95 dan satu kamera 360 theta s pun masuk ke dalam tas drybag yang saya bawa.

Pos 4 – Pos 5

“Target sampai pos 5 atau sampai jam 10 nanti kita kembali turun ya” Jam 8 pagi kami mulai meninggalkan shelter pos 4. Jalan masih menanjak, menghabiskan bukit di depan kami. Setelah itu mulai banyak melandai dan banyak bonus.

Padang rumput coklat kehitaman mulai terlihat di separo perjalanan menuju pos 5. Sisa kebakaran beberapa waktu lalu meninggalkan jejak hitam. Tapi rumput hijau pun mulai tumbuh. Beberapa bulan lagi padang sabana ini akan kembali indah.

gunung-lawu-jalur-candi-cetho
menikmati sabana
gunung-lawu-jalur-candi-cetho
bengkoang e uenakk

Kami melewatkan waktu cukup lama hanya duduk duduk di bawah pohon sembari menikmati sabana di lereng gunung Lawu. Tak heran beberapa pendaki menyebut pendakian gunung lawu jalur candi cetho sebagai semeru mini. Kalau biasanya lewat jalur Cemoro Sewu dan Cemoro kandang kita tidak bisa menikmati sabana seindah jalur candi cetho ini.

gunung-lawu-jalur-candi-cetho
mendekati pos 5
gunung-lawu-jalur-candi-cetho
rombongan pendaki cilik fikar

Di perjalanan kami bertemu dengan rombongan pendaki cilik fikar yang baru turun dari puncak. “3 malam kami di gunung Lawu”. Wih semangat dik Fikar.

Pos 5 – Pos 6

gunung-lawu-jalur-candi-cetho
pos 5 bulak peperangan
gunung-lawu-jalur-candi-cetho
sabana merana

Selepas itu pos 5 Bulak Peperangan diapit beberapa bukit. Melangkah tidak terlalu jauh, tanjakan melewati bukit yang banyak pendaki bilang miniatur bukit cinta nya semeru.

gunung-lawu-jalur-candi-cetho
miniatur bukit cinta

Pos 6, rasanya Enggan Pulang

gunung-lawu-jalur-candi-cetho
edelweis bermekaran
gunung-lawu-jalur-candi-cetho
menyusuri setapak

Jalur melandai melintasi sabana hingga akhirnya kami tiba di pos 6 Gupak Menjangan. Menikmati pemandangan bukit dan padang rumput di bawah naungan pohon cemara sepertinya merupakan highlight pendakian gunung Lawu jalur candi cetho ini.

gunung-lawu-jalur-candi-cetho
view dari gupak menjangan
gunung-lawu-jalur-candi-cetho
nampang depan gupak menjangan

“Lanjut ke pasar dieng?” tanyaku sembari melirik jam yang sudah mendekati waktu setengah sebelas. “Kita sampai di sini saja, jam sebelas nanti kita jalan turun”.

Rasanya enggan untuk beranjak dari tempat seindah ini. Tapi perjuangannya untuk sampai ke sabana juga harus disikapi dengan latihan fisik sebelum memulai pendakian. 3 hari 2 malam mungkin lebih ideal untuk pendakian yang lebih menikmati perjalanan.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *