Puncak Gunung bukan segalanya

Saya bukan termasuk golongan yang kalau naik gunung harus sampai puncak. Trus foto foto selfie berpuluh kali sambil membawa bendera merah putih, bergaya seperti pahlawan yang sudah menaklukan puncak gunung. Mungkin dulu pernah sih, jaman awal-awal mulai naik gunung.

Tapi semenjak saya menyukai foto pemandangan, saya lebih suka memotret pemandangan alam dalam perjalanan ke gunung. Saya teringat nasehat bang Don Hasman ketika melakukan perjalanan bersama di gunung Papandayan, 2010 lalu. “Mas Wid, seperti kita ini naik gunung tidak lagi harus mengejar puncak. Ada banyak yang indah di sepanjang perjalanan untuk kita abadikan melalui kamera.” ucap bang Don sembari beberapa kali berhenti, mengarahkan kamera dan membidik pemandangan sekeliling. “Kalau kita sampai puncak, itu berarti bonus” tambahnya lagi.

Dan nasihat bang Don Hasman itu sampai sekarang masih saya jalankan. Kalau memang fisik dan waktu masih mendukung kenapa tidak mencoba sampai puncak. Tapi kalau memang alam berkehendak lain, ya tidak perlu harus memaksakan diri mengejar puncak.

Jadi ingat pas ke gunung Gede, 2011 lalu, kami hanya memotret sembari jalan dari batas vegetasi, naik dan naik terus.. eh tiba tiba kok sudah terlihat tugu penanda titik tertinggi gunung gede. Atau pas ke Merbabu 2015 kemarin. Dari pos 3 jalur Suwanting niatnya cuma sekedar memotret di sabana, semakin maju semakin maju, eh kok puncak sudah terlihat. Tapi pernah juga beberapa kali naik gunung karena dihajar badai jadi cuma mendirikan tenda di pos 3 Merbabu jalur Selo.

lawu 6D 382 2 - Puncak Gunung bukan segalanya

Intinya sekarang ini kami naik gunung sekedar untuk menikmati keindahan alam di pegunungan, tidak lagi mengejar ego kami. Bukan untuk menaklukan alam, tapi untuk menaklukan diri sendiri. Dan tentunya membawa kembali sampah kita turun ke bawah, bukan malah membuangnya di atas sana.


>