air terjun jumo - Rela Bangun Pagi Demi Komposisi Air Terjun Jumog

Suara air yang tercurah dari ketinggian semakin menggelegar ketika kami menapaki jalan yang tidak terlalu menanjak. Di kiri kami aliran air berundak di bebatuan, bening khas air di pegunungan. Sesampai di jembatan ikonik air terjun Jumog kami berhenti, masih belum ada siapa siapa, hanya ada kami berempat. Lha iya, jam 5 pagi kami sudah berada di Jumog. Rela bangun pagi demi komposisi air terjun Jumog.

“Besok kumpul di Pasar Gedhe jam 4 pagi ya bek” telpon dari Dwi “Kebo” mengawali acara hunting yang tidak pakai rencana disusun lama. Nemenin pak dhe Djarot yang lagi liburan ke Solo. “Berangkat pagi biar tidak banyak bocor” imbuh Dwi lagi. Siapppppp

Berangkat Subuh

Sekitar pukul setengah empat bunyi weker di handphone berdering, diiringi bunyi nada panggil. “Bangun Bek, aku sudah berangkat” Segera cuci muka, gosok gigi, rutinitas pagi dan segera memesan ojek via aplikasi untuk mengantar ke Pasar Gedhe.

Jalanan Slamet Riyadi, jalan utama kota Solo masih sangat sepi, ya iyalah, subuh subuh suasana liburan gini. Pukul 4 lewat sedikit kami berempat, Dwi “Kebo”, Djarot, Prima dan saya sudah kembali menyusuri jalan Solo – Karanganyar, otw menuju ke air terjun Jumog yang berada di kawasan Kemuning.

Sempat tersesat karena beberapa kali ke air terjun Jumog lewat parkiran atas, dan kali ini mencoba lewat parkiran bawah. Untung pada sadar ketika jalan yang kami lewati terus menerus menurun jauh. Cek aplikasi map di handphone dan memang kami salah ambil jalan. Harusnya di atas tadi ketika ada parkiran bus, kami belok ke kiri. Putar balik dan tak lama kemudian kami sudah sampai di depan pelataran dengan tulisan selamat datang di Jumog.

“Parkir teng mriki mboten nopo nopo pak ?” (parkir di sini ndak papa pak?) tanya Prima ke salah satu bapak yang sedang bersih bersih area sekitar. “Mboten nopo nopo mas”. Dan mobilpun di parkir di area depan pintu masuk. Walau akhirnya nanti sekitar pukul sembilan pagi diworo woro pakai pengeras suara, mobilnya harap dipindah ya !!! hahaha

Pintu Masuk Jumog

Ada dua pintu masuk ke Jumog, pintu masuk atas dan bawah. Kalau dari atas, nanti akan melewati jalan yang menurun, di salah satu informasi sih disebut sekitar 161 anak tangga. Tapi kan ya kembali lagi setelah dari air terjun Jumog naik naik bikin capek. Yang di parkiran bawah, ke air terjun ndak terlalu nanjak dan tidak terlalu jauh. Jadi kami putuskan mengambil parkiran di bawah saja.

Tak jauh berjalan kaki, paling sekitar 5 menit kami sudah tiba di salah satu spot populer untuk mengabadikan air terjun Jumog, aliran sungai dengan jembatan dan air terjun Jumog sebagai latar belakangnya. Dan tentunya bebas dari bocor, istilah kami para pencinta foto aliran pemandangan kalau banyak orang lalu lalang di depan kamera :D.

Komposisi Terbaik

Kami bertiga segera mencari posisi terbaik menurut masing-masing. Dwi langsung turun ke sungai, dibawah jembatan kedua untuk mendapatkan foto foreground aliran sungai, Djarot mencari posisi di ketinggian, naik ke arah sebelah kiri air terjun.

air-terjun-jumog
jembatan ikon jumog

Saya masih tetap di posisi jembatan awal. Prima yang hanya membawa handphone dan tidak membawa tripod mencari ide untuk bisa mendapatkan foto slow speed air terjun sehalus sutra. Menggunakan dua botol minum, handphone ditaruh di antara kedua botol, sebagai pengganti tripod. Kreatif kan, kadang keterbatasan membuat kita berpikir lebih kreatif.

Berangkat Lebih Pagi

Keuntungan berangkat pagi di tempat tempat wisata mainstream seperti air terjun Jumog ini adalah masih sepi. Kita bisa bebas mencari komposisi terbaik. Mau di depan air terjun persis, di sebelah kiri dan kanan, atau agak jauh untuk mencari foreground yang spesifik.

Mengabadikan Air Terjun Jumog
Mengabadikan Air Terjun Jumog

Bandingan dengan foto yang diambil kalau kita pergi wisata, misalnya bareng dengan keluarga ke air terjun Jumog. Biasanya paling cepat berangkat ke tempat wisata jam 7 pagi. Tiba di lokasi sekitar pukul setengah sembilan dan sudah banyak pengunjung lain yang datang.

Boro boro mau cari komposisi terbaik, kadang cari tempat untuk menaruh tripod saja sudah kesulitan. Belum lagi lalu lalang pengunjung lain yang tentunya banyak datang ke air terjun Jumog cuma sekedar berswafoto atau ber wefoto di depan air terjun.

air-terjun-jumog
pengambilan komposisi sudut rendah

Ndak bisa kita salahkan, karena memang itu yang sedang menjadi trend saat ini. Tinggal bagaimana kita yang ingin memotret suatu tempat tanpa terganggun keriuhan pengunjung yang harus mencari solusinya. Salah satunya ya itu datang lebih pagi. Atau datang ketika tidak sedang akhir minggu atau liburan sekolah.

Benar kan, setelah pukul delapan pagi satu persatu rombongan mulai berdatangan. Ada yang membawa spanduk rombongan dari keluarga besar mana, ada yang memakai kaos seragam. Semua tumplek blek di depan air terjun.

air terjun jumog
bersantai di pinggir sungai

Kami yang sudah dari jam lima pagi tadi sih saat ini sudah santai santai makan mie instan sembari duduk di atas tikar yang diletakan di pinggiran sungai.

air terjun jumo 8 - Rela Bangun Pagi Demi Komposisi Air Terjun Jumog
thomson – captain haddock – thompson

Sementara beberapa teman yang membawa figure tintin, snowy dan mobil vw mencari lokasi di sungai, memotret hal lain yang tidak terganggu dengan kehadiran banyak pengunjung.

Selamat berlibur akhir tahun teman !!!
Sampai ketemu di tahun 2019 dengan lebih banyak petualangan ya !!!!

Tips Memotret di Air Terjun

air-terjun-jumog
lensa lebar
  • Biasanya air terjun mempunyai bentangan yang cukup lebar, jadi kalau bisa gunakan lensa lebar
  • Kalau ingin mendapatkan detail air terjun, pelangi yang kadang terlihat, bisa juga membawa lensa tele untuk berjaga-jaga.
  • Semua lensa dan kamera bisa digunakan kok untuk memotret air terjun.
air-terjun-jumog
detail air terjun dengan lensa tele
  • Bawa tripod supaya lebih mudah mencari komposisi dan juga membuat foto air terjun dengan kecepatan rendah.
  • Dengan kecepatan lebih dari 1 detik kita bisa mendapatkan aliran air menjadi lebih lembut.
  • Di pagi hari masih bisa dengan mudah mendapatkan kecepatan rendah, tapi kalau siang hari bisa diatasi dengan menggunakan filter ND.
  • Filter CPL berfungsi untuk mengatur pantulan (refleksi) dan juga transparasi, jadi bawa juga kalau mau hunting di air terjun ya.
  • Untuk mencari komposisi terbaik, usahakan ke lokasi tidak sedang musim banyak pengunjung. Kecuali memang sengaja mencari foto yang terlihat dengan banyak pengunjung.
air-terjun-jumog
versi vertikal
air-terjun-jumog
versi horisontal
  • Ambil gambar dalam format horisontal dan vertikal.
  • Kalau lensa kurang lebar bisa diakali dengan mengambil beberapa frame berdampingan dan nanti diolah menjadi foto panorama.
  • Kalau terlalu dekat dengan air terjun biasanya lensa dan bodi kamera akan terkena kabut uap air, jangan lupa bawa lap untuk mengatasi lensa yang berembun.
  • Yang paling penting, lihat sekeliling. Utamakan keamanan, baik diri kita, peralatan maupun lingkungan sekitar.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *