Ruangan santai di lantai 4 Menara Kibar, kemarin malam, 9 Agustus 2017 cukup ramai. Beberapa orang berkumpul di sekitar sofa terlibat diskusi yang cukup meriah. Terkadang diselingi ketawa ketika salah satu dari kami membuat candaan . Malam itu, Saya dan mas Yudhi dari DCI “kebagian jatah” untuk sharing dokumentasi event.

Sharing dokumentasi event diikuti oleh beberapa teman dari Kibar yang sering mendapat tugas untuk peliputan acara di menara Kibar. Dibuka oleh Syukron, kolaborator handal dari TelusuRI yang mengawali dengan pertanyaan “penting ndak sih dokumentasi event itu?.

This content requires HTML5/CSS3, WebGL, or Adobe Flash Player Version 9 or higher.

Foto merupakan panorama 360, silakan diputar ke kiri kanan atas bawah untuk melihat sekeliling. 

Sharing dokumentasi event ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan sharing di event google developer group x telusuri yang diadakan beberapa waktu yang lalu. Ketika kami mendapatkan hasil foto dokumentasi event tersebut, ternyata semua foto dari seluruh kamera yang digunakan untuk dokumentasi diupload ke google drive. Baik foto yang bagus dan foto yang kurang bagus, semua bertumpuk di beberapa folder terpisah.

Setelah berdiskusi dengan Syukron dan Yudhie akhirnya kami berniat untuk berbagi pengalaman seputaran dokumentasi event, saya kebagian di bagian dokumentasi foto dan mas yudhi di bagian dokumentasi video.

Tempat diputuskan di menara Kibar lantai empat dan nantinya bisa diikuti oleh teman-teman Kibar yang mempunyai tugas untuk mendokumentasikan event-event yang sering diadakan di menara Kibar. Sharing sengaja dibikin santai, berlokasi di sofa yang biasanya digunakan untuk ngobrol santai di salah satu sudut lantai 4.

Riset merupakan salah satu bagian awal dari dokumentasi event yang perlu dilakukan baik untuk foto maupun video. Kita mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang event yang akan kita dokumentasikan. Lokasinya dimana, apakah di dalam atau di luar ruangan. Siapa nanti tokoh-tokoh kunci event nya, apa tema nya, agenda kegiatan dan apa saja yang nantinya perlu kita dokumentasikan merupakan beberapa catatan yang bisa kita cari tahu di riset awal.

Setelah itu kita bisa mulai mengira-ira peralatan apa saja yang perlu kita bawa untuk pendokumentasian. Misalnya lensa apa saja yang wajib kita bawa, perlu tidak membawa flash tambahan, apakah cukup dengan satu atau harus dengan teman lain supaya bisa mengcover event dengan lebih baik.

Pada hari H, pastikan untuk datang lebih awal. Kita bisa mengecek lokasi, mencari posisi cahaya yang tepat, mengatur komposisi dan juga berbicara dengan panitia untuk memastikan agenda kegiatan.

Jangan lupa untuk melakukan beberapa test jepretan. Review hasilnya, kalau ada yang kurang, sempurnakan lagi, supaya nanti pada saat event kita sudah siap dengan setingan terbaik dan tinggal mengatur komposisi dan mencari momen-momen untuk diabadikan.

Kalau dalam pendokumentasian kita melakukan dengan teman lainnya kita bisa juga mengatur posisi dan berbagi peran apa saja yang bisa kita dokumentasikan. Misalnya menurut mas yudhi, kalau dalam video, ada salah seorang yang bertugas sebagai master kamera, yang fungsinya mengabadikan event secara keseluruhan, dan ada team lainnya yang berfungsi mengambil detail-detail event.

Setelah event dimulai kita sudah siap untuk mengabadikan momen yang ada. Pastikan untuk mengambil dokumentasi secara keseluruhan dan detail. Dan yang penting lagi ambil foto yang tajam, tidak blur. Baik blur karena gerakan orang yang kita potret atau lebih fatal lagi karena speed terlalu lambat sehingga kita goyah ketika melakukan pemotretan.

Salah satu masalah yang kami lihat ketika melakukan evaluasi foto-foto dokumentasi kegiatan yang lalu adalah beberapa foto yang blur. Dan setelah dicek di data exif karena speed yang terlalu lambat. COntohnya, dengan menggunakan lensa 50 f/1,8 ternyata speed nya hanya 1/13, hampir bisa dipastikan gambar yang diambil akan goyang karena speed yang lambat. Padahal iso yang digunakan iso 200.

Solusinya bisa dengan menaikan iso supaya kecepatan juga tidak terlalu lambat. Lebih baik gambar sedikit noise tapi hasil tajam daripada hasil foto yang blur karena mengejar iso yang rendah.

“Saya biasanya menggunakan mode Av (apperture value) kalau untuk memotret” ucap Dila, salah satu penanggung jawab event di Kibar. Nah, kita perlu melihat situasi juga ketika memutuskan menggunakan mode pemotretan. Kalau untuk event yang biasanya juga banyak orang yang bergerak, kalau pengalaman saya malah lebih flexibel menggunakan mode Tv (time value) karena kita bisa mengatur kecepatan nya, sehingga kita bisa memastikan mendapatkan kecepatan yang cukup supaya gambar tetap tajam dan orang yang difoto terlihat statis tidak blur.

Ada pedoman supaya mendapatkan hasil yang tajam tidak blur, gunakan kecepatan di atas focal lenght lensa yang kita gunakan. Misalnya menggunakan lensa 50mm, berarti paling tidak kita harus menggunakan kecepatan di atas 1/50. Apalagi kalau kita menggunakan lensa tele, misalnya 200mm, berarti kita harus mengimbangi dengan kecepatan di atas 1/200 supaya tidak terlihat goyang.

Selain itu perlu dipertimbangkan juga untuk memotret menggunakan format file raw, terutama kalau event yang kita dokumentasikan banyak menggunakan cahaya yang berwana warni. Paling tidak kita tidak perlu terlalu pusing tentang white balance, karena dengan raw kita bisa mengatur ulang white balance ketika post processing. Walau memang ada beberapa kelemahan menggunakan format raw yaitu file yang besar dan perlu waktu untuk memprosesnya.

Dan terakhir, ketika event sudah selesai, sebagai fotografer atau videografer kita mempunyai tanggung jawab untuk menyeleksi foto atau video yang kita ambil sebelum dikumpulkan di folder utama. Paling tidak kita memilih foto-foto yang menurut kita sesuai dengan tema, secara tehnik baik (tidak blur, tidak terlalu over/under). Apalagi kalau nantinya folder utama akan disharing untuk semua orang, jangan sampai kalau kita mengumpulkan semua foto dan ada beberapa foto yang kurang bagus malah jadinya membuat kredibilitas kita berkurang.

Di akhir sharing dokumentasi event, mas yudhi membagikan pengalaman mengelola folder untuk pendokumentasian video. Biasanya sudah ada yang bertugas sebagai logger yang bertanggung jawab untuk mengelola file file yang dikumpulkan dan mengelolanya ke dalam folder folder sesuai dengan kebutuhan.

Mudah-mudahan sharing dokumentasi event kemarin bisa bermanfaat untuk teman-teman di Kibar. Ditunggu penerapannya di pendokumentasian event-event mendatang ya !

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *