Komodo day 95 : Cunca Wulang

Di depan kami, ngarai batu berwarna abu abu membelah sungai. Di ujung sungai, pancuran air mengalir di antara celah batuan. Sayang kami berkunjung ke Cunca Wulang pada saat musim kemarau, sehingga debit air yang mengalir sedikit. Bahkan di bagian tengah teronggok daratan pasir, dimana kami bisa berjalan kaki mendekati mulut tebingnya.

Saya berasa kembali ke beberapa tahun yang lalu, ketika itu sendirian bepergian menuju ke air terjun Cunca Wulang. Hanya dengan berbekal google map, rental motor dan saya bisa tiba di sana. Tapi kali ini saya ditemani beberapa teman, krew kapal Lalunia, Mubin dan teman ceweknya serta Budi.

Awalnya sebenarnya saya dapat info kita pergi ke Cunca Rami, tempat yang saya belum pernah datangi. Tapi ketika akhirnya kami tiba di pertigaan jalan yang kami tuju adalah Cunca Wulang. Ya sudahlah, kan memang niatnya sekedar jalan-jalan mumpung ada waktu beberapa hari kapal tidak ada trip.

Perjalanan dengan motor dari Labuan Bajo menuju pertigaan jalan sudah beraspal bagus, beberapa tempat ada perbaikan karena longsor. Selebihnya jalanan menanjak dan mengular, jadi pastikan jangan mengantuk ketika mengendarai motor. Juga pastikan kendaraan layak pakai, cek rem, karena kalau berangkat pasti banyak turun kan.

penunjuk jalan

Begitu tiba di pertigaan, dengan papan penanda cunca wulang masih tersisa 4 km lagi. Kami mulai memasuki jalan beraspal kaleng kaleng. Di beberapa tempat bahkan sudah mirip ampyang, ambyar.

Bahkan di depan kami, dua turis wanita dari perancis, kurang perhitungan mengerem mendadak di turunan yang berkerikil. Motor perlahan miring ke kanan dan mereka jatuh. Beruntung cuma lecet kecil, tapi pastinya membuat mereka ciut dan akhirnya memilih kembali ke Labuan Bajo.

Sepertinya akses jalan menuju ke Cunca Wulang harus lebih diperhatikan. Tapi nanti pas ngobrol dengan salah satu pemandu di sana, mereka mendapat informasi nanti jalan akan diperbaiki, diaspal sampai ke desa mereka.

selamat datang

Setelah mengurus tiket, kami ditemani satu pemandu menuju ke pintu gerbang masuk air terjun. Beberapa perbaikan fasilitas tampak sedang dibangun. Satu warung permanen berdiri di dekat tempat parkir beton yang masih belum selesai dibangun.

masih belum selesai

Jalan menuju ke air terjun Cunca Wulang sekarang sudah dibangun lintasan dari beton. Belum semua sih, dari depan masih jalan setapak, di sekitar seperempat baru kita melangkah melewati jalan berbeton.

Di turunan dibikin tangga berundak dengan pegangan tangan, supaya lebih aman. Seingat saya dulu pas kesini masih lebih natural, melewati jalan tanah dan undakan dari batu. Tapi ya mungkin supaya lebih mudah buat para tamu yang ingin berkunjung. Di papan tulisan tertulis 500 meter lagi menuju ke air terjun. Tidak terlalu jauh harusnya, dan perjalanan berangkat bakalan lebih banyak turunan.

jembatan gantung pertama

Kami tiba di tangga gantung kayu yang dicat kuning. Ada dua Tangga gantung kayu yang dibangun sekitar 2 tahun yang lalu. Pantas karena pas kesini dulu masih harus melewati batuan di pinggir sungai. Sekarang kita langsung dibawa ke samping air terjun. Kapasitas maksimal tangga gantung kayu adalah 10 orang atau 700 kg.

tangga gantung kedua

Ada dua tangga gantung yang harus kita lewati sebelum tiba di depan air terjun Cunca Wulang. Jadi tidak seperti dulu yang harus melewati sungai.

menuju air terjun
cunca wulang

Begitu tiba di depan air terjun Cunca Wulang ada yang sedikit berbeda. Di bagian air terjun, yang berupa celah sempit, kami melihat gosong pasir.

gosong pasir

Padahal sebelumnya di situ merupakan salah satu area untuk melompat dengan kedalaman sekitar 25 meter.

cunca wulang setelah banjir

“pas banjir kemarin, pasir terbawa dan jadi seperti sekarang” ucap mas nya pemandu berambut coklat menyala. Sebelumnya saya hanya bisa memotret dari pinggiran atas air terjun. Tapi kali ini saya bisa turun ke bawah, membawa kamera, tripod hingga di depan celah tebing air terjunnya.

masker selam

Tapi di celah masih dalam, kamera gopro sama sekali tidak bisa melihat di kedalaman selepas 2 meter hahaha. Saya yang sengaja membawa masker dan snorkle mencoba masuk sedikit ke dalam. Tapi tidak sampai ke ujung air terjunnya.

celah tebing

Suhu air cukup dingin, 24C tercatat di dive comp. Kalau biasanya diving dengan wet suit, di air terjun cuma pakai celana kolor jadi pasti berasa lebih dingin.

makan siang

Setelah puas bermain air, kami kembali naik ke atas. Nasi padang dengan lauk telor sudah menunggu untuk makan siang di pinggir air terjun.

Flores sebenarnya kaya dengan obyek wisata alam. Tapi memang butuh banyak perbaikan infrastruktur dan juga campur tangan banyak pihak supaya bisa lebih mudah diakses wisatawan yang ingin sekedar berkunjung, tidak harus berpetualang.

Dan malam harinya sepulang dari Cunca Wulang, saya tidur lebih cepat.

Leave a comment: