Komodo – Day 1 : Melaut Kita

“Ditunggu di Dermaga Ujung, depan Roxy” pesan wa dari Ulfi masuk ketika saya keluar dari bandara udara Labuan Bajo. Taksi tarif 50 ribu pun tak lama kemudian mengatar saya menuju dermaga, melewati jalan yang tahun 2016 lalu saya lewati dengan sepeda motor ketika berkeliling sendirian di Labuan Bajo.

Speed boat sudah menunggu di ujung dermaga. Menunggu para peserta lain yang masih berbelanja di supermarket Roxy. Saya berkenalan dengan beberapa krew kapal Lalunia yang berada di perahu. Dan seperti biasa, setelah berkenalan saya lupa siapa saya tadi namanya. Duh penyakit..

Setelah semua berkumpul, speed boat segera meluncur perlahan. Tak jauh dari titik temu tadi, kapal kayu Lalunia berlabuh.

“Hati-hati, licin”, awak kapal mengingatkan kami ketika satu persatu mulai berpindah dari speedboat ke perahu Lalunia. “Sepatu di taruh di box ya, supaya kapal tetap bersih.”

Ruang tengah yang disulap menjadi ruang makan terlihat rapi dengan kursi melingkar yang diisi bantal. Di tengah meja kayu yang biasa digunakan untuk makan tersedia jus alpukat yang segar melegakan tenggorakan.

Awan kelabu menggantung di sisi barat. Di perjalanan tadi pesawat sempat terguncang beberapa kali melewati awan. Supir taksi tadi juga sempat bercerita beberapa hari kemarin sempat hujan di Labuan Bajo.

Rencana sore nanti check dive, saya yang untuk perjalanan kali ini memaksakan diri untuk melengkapi peralatan diving harus mencoba setingan alat supaya berjalan sesuai dengan rencana.

Setelah semua persiapan, kami menuju ke lokasi Seturai. Tidak terlalu jauh dari dermaga. Lokasi berupa pulau karang. Krew kapal dengan tangkas memindahkan peralatan diving dari Lalunia ke speedboat.

Ada 5 orang yang diving kali ini, Peter yang sebagai dive guide, 3 orang tamu, dan saya.

Peter memberikan briefing di speedboat sebelum kami mulai turun dari kapal dengan tehnik backroll. Byurrr..

Kondisi air kurang terlalu jernih, dasar yang berlumpur serta berarus membuat jarak pandang menjadi terbatas. Cek dive ini berasa diving di labuan bajo rasa pulau seribu hahaha.

Saya sengaja turun tanpa membawa peralatan kamera supaya bisa fokus mencoba merasakan peralatan diving yang serba baru ini. Yang biasanya menggunakan bcd tipe jaket, scuba pro Tone, kali ini bcd back inflate, Aqualung Rogue. Masker yang biasa dengan kacamata dipasang di masker, kali ini menggunakan scuba pro twin flux dengan lensa yang saya pasang sendiri dengan bantuan tutorial di youtube. Entah nanti bocor atau tidak musti dicoba.

Regulator juga biasa pakai bawaan rental, scuba pro mk2, sekarang pakai yang sekelas lebih tinggi. Dan fin zeagle Recon yang cukup berat dan bootis yang baru dibeli kemarin malam membuat saya musti menjajagi semua terlebih dahulu. Supaya aman, saya juga memasang 4 pemberat di kedua kantong pemberat bcd.

Awalnya agak kaku juga, tapi setelah itu rasanya memang lebih nyaman dengan menggunakan bcd back inflate. Ndak seperti memakai bcd tapi lebih seperti memanggul tas ransel.

Fin dan bootis juga cukup nyaman sembari menggunakan gaya katak. Salah satu keuntungan menggunakan gaya katak adalah lebih menghemat energi karena kaki kita tidak terus-terusan dikayuh. Tidak seberat bayangan saya, awalnya saya kira akan seperti menggunakan jet fin.

Sebenarnya kalau visibility bagus, lokasi ini cukup bagus juga untuk foto-foto profil sih. Beberapa lokasi dijumpai sekumpulan sea fans yang cukup besar. Sesekali menemui lubang gua dengan schooling ikan kecil di dalamnya. Spon juga ketemu beberapa walau ukurannya tidak ada yang besar-besar seperti di Una Una.

Sayang memang karena visibility jadi kurang begitu keliatan keindahannya. Tapi memang diving kali ini cuma sekedar check dive, jadi tidak mencari lokasi terbaik tapi terdekat. Besok lokasi yang bagus-bagus masih banyak kok.

Selepas diving, kapal menuju ke pulau Kelor. “Biasa di atas bukit menonton matahari terbenam”. Ketika tiba di pinggir pantai, tidak terlalu banyak pengunjung lain. Mungkin karena memang cuaca kali ini mendung sehingga orang enggan untuk menunggu matahari terbenam.

Perjalanan ke puncak bukit sebenarnya tidak terlalu lama. Tapi jalan yang terjal dan cukup licin kalau habis hujan membuat kami beberapa kali berhenti untuk sekedar mengambil nafas dan berfoto ceria.

Tiba di atas, memang tampaknya sunset tidak akan bisa kami nikmati. Tertutup mendung yang cukup rata di ufuk barat.

Setelah cukup puas berfoto, kami kembali menuju speedboat yang mengantar kami kembali ke Lalunia. Malam ini kami bersandar di depan pulau Kelor, besok pagi rencana trekking di pulau Rinca dan setelah itu kembali diving dan diving. Yippiiiii

Leave a comment: